Mengagumi Keindahan Piaynemo Raja Ampat

Salah satu destinasi utama kami saat jalan-jalan ke Raja Ampat adalah Piaynemo. Jaraknya sekitar satu jam berlayar dari tempat kami menginap di Doberai Private Island.

Piaynemo sering juga disebut dengan “Painemo”, tapi yang lebih tepat adalah Piaynemo. Nama Piaynemo diambil dari bahasa masyarakat Biak yang artinya sambungan antara bagian kepala dan gagang tombak. Pemberian nama ini didasarkan pada bentuk pulau Piaynemo yang seperti terputus tiga jika dilihat di peta.

Di sini kamu bisa melihat kumpulan atau kompleks bebatuan karst dengan aliran air laut yang tenang di sekitanya. Piaynemo seringkali disebut sebagai “Wayag kecil” karena pemandangan yang dilihat dari puncak Piaynemo bisa dibilang mirip dengan di Wayag.

Piaynemo
Potret Piaynemo dari ketinggian

Baca juga: Wayag, surga dunia yang tersembunyi

​Saat tiba di Piaynemo dan menginjakkan kaki di dermaga, saya takjub melihat pemandangan di hadapan saya, hamparan air laut yang jernih berwarna hijau tosca dengan bebatuan karst berdiri megah disekitarnya. Saya bahkan bisa melihat langsung batu karang dan ikan yang berada di dalam laut. Kapal-kapal yang sedang bersandar pun terlihat seakan melayang diatasnya. Sungguh merupakan pemandangan yang menyegarkan pikiran.

Piaynemo Raja Ampat
Pemandangan dari dermaga PIaynemo

Pengunjung harus membayar biaya retribusi sebesar Rp 300.000/kapal. Biaya tersebut akan digunakan untuk pengelolaan tempat wisata ini, agar tetap bersih dan nyaman untuk dikunjungi turis berikutnya.

Biaya tersebut dibayarkan di pos lapor yang terletak terpisah, tidak jauh dari Piaynemo. Tidak ada penjaga yang memungut secara langsung di lokasi ataupun memeriksa bukti pembayaran, namun para guide ataupun awak kapal di Raja Ampat ini sangat peduli akan kelestarian dan kelangsungan objek wisatanya, sehingga mereka secara sadar membayarkan kewajibannya. Biaya retribusi boleh dibayarkan saat baru tiba atau saat akan meninggalkan kawasan Piaynemo.

Piaynemo Raja Ampat
Pos lapor tempat membayar retribusi di Piaynemo

​Untuk mencapai puncak Piaynemo, terdapat sekitar 320 anak tangga kayu yang perlu saya lalui. Kedengarannya cukup banyak, tapi jangan khawatir karena anak tangga ini sangat mudah dan nyaman untuk diakses dan juga terdapat pepohonan rindang disekitarnya yang melindungi saya dari sengatan sinar matahari saat sedang menaiki anak tangga. Terdapat juga beberapa tempat pemberhentian disertai tempat duduk bagi pengunjung yang merasa kelelahan sebelum bisa sampai di puncak.

Semua rasa lelah saat menaiki anak tangga langsung terbayarkan saat saya mencapai puncak Piaynemo, karena saya akhirya melihat salah satu pemandangan terbaik di dunia.

Piaynemo
Selamat datang di Piaynemo
Piaynemo
Tangga menuju puncak Piaynemo

Ada beberapa spot yang dapat jelajahi saat menikmati pemandangan ataupun saat mengabadikan momen di puncaknya.

Saran saya, usahakan kamu datang lebih pagi agar belum terlalu ramai orang dan kamu dapat lebih nyaman dan santai saat berfoto atau menikmati pemandangan indah dari puncak Piaynemo. Untuk hasil foto yang lebih maksimal, sebaiknya kenakan baju dengan warna cerah, selain biru dan hijau, agar terlihat kontras dengan latar belakang pemandangan yang cantik ini.

Pemandangan dari puncak Piaynemo
Piaynemo Raja Ampat
Keindahan Piaynemo dan sekitarnya
Piaynemo Raja Ampat
Pemandangan puncak Piaynemo dari drone
Piaynemo Raja Ampat
Air laut yang tenang di sekitar Piaynemo
Piaynemo Raja Ampat
Pintu masuk ke Piaynemo

Baca juga: Diving di Raja Ampat, Melihat Keindahan Bawah Laut yang Mengagumkan

Setelah merasa puas dan juga karena harus bergantian dengan pengunjung lain, saya turun kembali ke dermaga.

Di dermaga, terdapat kios-kios yang menjual air kelapa, Pop Mie, dan makanan ringan lainnya. Saya dan teman-teman pun menikmati segarnya air kelapa setelah berpanas-panasan di puncak Piaynemo. Harga air kelapa adalah Rp15.000/buah.

Di kios itu juga seringkali ada yang menjual kepiting kenari. Harga kepiting kenari biasanya sekitar Rp100.000 -150.000/ekor. Saya dan teman-teman membeli kepiting kenari untuk dimasak di resort.
​Dari Piaynemo, saya dan teman-teman lalu menuju pulau kecil di dekat Piaynemo, namanya Sasukarures. Kami adalah satu-satunya pengunjung di Sasukarures pada saat itu, sehingga kami cukup bebas untuk mengeksplor pulau kecil tersebut. Kami juga menyantap bekal makan siang kami di sini.

Saat berkeliling di Sasukarures, saya tidak hanya menjumpai pantai, tetapi juga area hutan bakau yang langsung tersambung dengan laut lepas. Pemandangan yang sangat mengagumkan. Dalam hati saya berharap bisa menikmati pemandangan ini setiap hari, hehe..

Sasukarures
Bermain pasir di Sasukarures
Sasukarures
Bermain di pantai Sasukarures
Sasukarures
Wisata bakau di Sasukarures

Kami tidak terlalu lama menghabiskan waktu di sini karena harus melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya yang juga tidak kalah menarik.

About the author

Banker & Travel Blogger. ​Suka berpetualang untuk menikmati pemandangan alam dan berinteraksi dengan penduduk sekitar. Sangat bahagia kalau bisa berbagi cerita dan informasi kepada orang lain.

Related Posts

Leave a Reply