Jalan jalan ke Laos dari Bangkok (tanpa tour)

Yeah, akhirnya sampai juga kami di Laos. Pengalaman pertama naik sleeper train ternyata menyenangkan, bisa tidur nyenyak, hehe… Setelah perjalanan kembali ke Bangkok dari Lopburi, kami beristirahat sejenak di hotel. Kemudian langsung menuju Stasiun Hua Lamphong untuk melanjutkan petualangan untuk jalan-jalan ke Laos.

Kami berangkat menuju Laos menggunakan kereta sleeper train dengan tujuan Bangkok—Nongkai. Kereta berangkat jam 8 malam. Karena kereta ini merupakan sleeper train, maka sudah dipastikan kami bisa tidur di kereta. Setiap gerbong terdiri dari 2 sisi, kanan dan kiri. Masing –masing sisi terdiri dari 2 tingkat (seperti tempat tidur tingkat). Tingkat atas lebih sempit dan tidak ada jendela untuk melihat ke luar.

Jangan takut akan jatuh karena ada penahan dan ada tirai agar tidak terganggu oleh penumpang lain yang lalu lalang. Masing-masing penumpang mendapat bantal kepala dan selimut. Ada perbedaan harga tentunya untuk tingkat bawah dan tingkat atas. Kami membeli 2 tiket tingkat atas dan 1 tiket tingkat bawah.

Harga tiket tingkat atas THB 688, sedangkan untuk tingkat bawah sekitar THB 758.
Bagi saya, tidur di tingkat atas tergolong nyaman, dengan ukuran tubuh yang kecil dan mungil. Untuk yang badannya cukup besar, saya sarankan untuk membeli tiket tingkat bawah. Bagi yang tidak tahan dingin, harap membawa jaket atau selimut tambahan. Kalau saya merasa masih nyaman (cukup tahan dingin).
Awalnya tempat tidur berbentuk kursi seperti layaknya kereta antarkota. Menjelang malam, datang seorang petugas yang membantu menyiapkan dan membereskan tempat tidur.

​Kami tiba di Nongkai (perbatasan Thailand-Laos) sekitar jam 7 pagi. Disini kami membeli tiket ke Vangvien seharga THB 600 per orang. Harga tiket ini termasuk: tiket kereta Nongkai – Thanalaeng, minivan dari Thanalaeng ke pusat kota Vientiane, dan Bus Vientiane – Vangvien.

Di Nongkai kami antri proses imigrasi untuk keluar dari Thailand. Warga negara Indonesia tidak memerlukan visa untuk masuk ke Laos.

Perjalanan kereta dari Nongkai (Thailand) ke Thanalaeng (Laos) memakan waktu sekitar 15-20 menit. Kereta ini membawa kami melewati sungai Mekong yang merupakan pemisah antara kedua negara tersebut.

Sesampainya di Thanalaeng, kami melewati imigrasi Laos, harus membayar THB 50, tidak tahu untuk apa. Lalu naik minivan ke Stadium Nasional Vientiane. Tiba di Stadium Nasional sekitar jam 9.15, kami pun mencari sarapan di sekeliling tempat itu, sebelum berangkat ke Vangvien dengan bus jam 10.

Di luar ekspektasi saya, jenis sarapan yang ditawarkan disini kebanyakan bergaya barat yakni roti dan sosis, karena ternyata negara ini dipenuhi oleh turis dari Eropa dan Amerika.

Bus yang kami tumpangi juga rata-rata dipenuhi bule dengan tas backpack yang sangat besar. Di tengah perjalanan, bus sempat istirahat sekali sekitar 25 menit. Waktu ini dipergunakan turis untuk ke toilet dan membeli snack. Tiba di Hotel Grand Riverside Vangvien skitar jam 14.30, dan selanjutnya naik tuktuk (gratis) ke pusat kota (wisata) Vangvien. Tuktuk disini, berbeda dengan yang di Thailand, berupa mobil pick up namun bagian belakang diberi atap.

Dari tempat turun tuktuk, kami hanya perlu berjalan kaki ke Abby Guest House yang sudah di booking melalui Agoda. Perasaan ketika turun dari tuktuk? TAKJUB. Banyak orang-orang yang membagikan selebaran undangan “Party”, ada yang bergaya barat, ada pula yang bergaya Jepang, WOW!!

Saat akan baru mencari arah jalan ke Abby Guest House, ada pria Jepang yang bertanya kami akan menginap dimana, saat kami bilang Abby Guest House, dia langsung memberitahu arah jalannya.

Ingin coba membayangkan seperti apa Vangvien? Mirip Kuta dan Legian Bali. Terdapat berbagai café di kanan dan kiri, turis-turis berjalan kaki atau naik sepeda motor. Cuma bedanya di Vangvien, jalanannya kebanyakan tanah merah, jadi sangat berdebu.

​Sesampainya di Abby Guest House, kami di sambut 2 pria ganteng, yang 1 mirip orang Korea, hehe.. ternyata mereka pemilik dan pengelola guesthouse ini. John, yang mirip orang Korea, fasih berbahasa inggris, karena ternyata beliau besar di Perancis dan pernah tinggal/ bekerja di Amerika. Rumah tersebut milik keluarganya, yang saat ini tinggal di Perancis.

Abby Guest House dekat dengan sungai. Pemandangan dari kamar saya juga sangat bagus. Saat check in, kami langsung menanyakan jadwal bus untuk kembali ke Vientiane, dan langsung saja terkejut karena ternyata jadwal bus hanya ada jam 9 pagi dan jam 1 siang, namun yang jam 1 siang tidak setiap hari ada. John membantu kami untuk mengecek ketersediaan minivan, namun ternyata yang ada hanya jam 9 pagi. Jadi mau tidak mau kami mengambil jadwal tersebut.

Baru tiba di Vangvien 14.30 siang, dan harus kembali jam 9 pagi keesokan harinya? Ya okelah sebagai pengalaman pertama. Tapi saya sarankan bagi yang ingin datang ke sini minimal siapkan 3 hari 2 malam.

Dengan keterbatasan waktu yang kami punya, kami bertanya kemungkinan wisata apa yang bisa kami datangi. Setelah berdiskusi panjang lebar, akhirnya kami memutuskan untuk ke Chang Cave dan Blue Lagoon di sore itu. Kamipun memesan tuktuk untuk pergi ke 2 tempat tersebut.

Tiket minivan Vangvien – Vientiane + Tuktuk ke Chang Cave dan Blue Lagoon untuk 3 orang seharga THB 1590. Karena kami tidak memiliki Kip, jadi kami membayar dengan Baht.

John menawarkan kami untuk menukar Baht dengan Kip di guesthousenya. Untuk THB 1000 dihargai 23000 Kip, kurs yang cukup bagus. Thanks John! Setelah membereskan segala persoalan, kami pun masuk ke kamar dan langsung bersiap untuk berangkat ke Chang Cave.

Sebelumnya saya disarankan untuk menyewa motor oleh teman Malaysia saya, namun dikarenakan kedua rekan saya tidak bisa naik motor, terpujilah mereka menyediakan tuktuk untuk pergi ke sana. Cara yang lebih murah juga jika anda bepergian dengan jumlah orang yang banyak.

Perjalanan ke Chang cave seitar 10 menit. Jangan lupa bawa masker atau kain untuk menutupi mulut dari hembusan debu jalanan yang dilalui oleh tuktuk. Tiket masuk ke sini seharga 10.000 Kip per orang.

Saat akan masuk ke area Chang Cave kami melewati jembatan berwarna merah. Jika kamu datang kesini, jangan lupa foto di jembatan dan dari jembatan ini, karena pemandangannya sangat bagus. Lalu anda akan melewati lahan padang rumput yang luas, yang bisa digunakan untuk piknik, sebelum akhirnya sampai di loket menuju Chang Cave.

Karena sudah sore, kami sudah tidak bisa masuk ke dalam gua. Kami berjalan-jalan di sekitar situ. Terdapat gua kecil yang berisi patung Buddha. Terdapat tempat sembahyang juga di sekitar situ. Saya menyempatkan diri untuk berdoa.

Belum puas, kami sudah harus melanjutkan perjalanan ke Blue Lagoon karena mengejar waktu, sebelum langit gelap. Perjalanan sekitar 20 menit (pake ngebut). Kami sempat berhenti di pinggir jalan untuk berfoto dengan latar bukit yang sangat bagus. Pemberhentian ini inisiatif dari supir karena kami tidak ada yang mau membuka mulut untuk berbicara karena sedang menghindari debu jalanan.

Pemandangan di sepanjang perjalanan menuju Blue Lagoon sebenarnya sangat bagus dan menarik untuk di foto, mulai dari gunung, sawah beserta kerbau yang sedang membajak, hingga aktivitas warga setempat, namun karena kondisi jalanan yang berdebu sehingga kami pun mengurungkan niat untuk mengeluarkan kamera.

Begitu sampai di Blue Lagoon, saya sempat tercengang karena ternyata lokasinya tidak terlalu besar dan dipenuhi ramai pengunjung yang kebanyakan turis Korea dan bule.

Di Blue Lagoon kita bisa berenang atau main air. Airnya dingin. Disitu terdapat pohon yang digunakan pengunjung untuk tempat pijakan sebelum melompat ke air. Melihat banyak orang yang melompat, saya jadi penasaran dan tergoda untuk naik ke pohon, niatnya cuma mau melihat dan merasakan saat berada di atas pohon, tapi saat sudah berada di atas pohon, ada 3 orang turis Korea menyemangati saya untuk terjun ke air dari atas pohon tersebut.

Yah, karena memang pengen main air plus gengsi juga, akhirnya saya memberanikan diri terjun ke air. Deg-degan. Karena nggak tau kedalaman air dan apa yang ada di dalam air. Tapi setelah masuk ke dalam air, rasanya lega, seger, hehe… Karena sudah terlanjur basah, ya sudah dilanjutkan saja berenang dan main air, bahkan lompat lagi dari atas pohon, hehe..

Setelah puas main air, sementara teman saya hanya menonton dan foto sekeliling, kami pun kembali ke guest house menggunakan tuktuk. Di perjalanan pulang, kami melewati turis-turis lain yang juga sedang dalam perjalanan kembali ke kota dengan menggunakan sepeda dan motor.

​Sesampainya di Guest House, kami mandi dan bersih-bersih untuk selanjutnya pergi untuk makan malam. Vangvien bukan kota yang besar, khususnya pusat kota nya. Mungkin hanya perlu waktu 1 jam naik motor untuk mengelilinginya. Kami berjalan kaki menuju tempat makan yang sempat kami lewati saat perjalanan pulang, karena terlihat menarik, maka kami memutuskan untuk makan disana. Jenis restoran yang kami datangi adalah seperti barbeque. Kami memilih daging yang kami mau, lalu akan dipanggang oleh pelayan.

Kami memilih daging iga babi, dendeng babi. Di sini tidak ada nasi, melainkan hanya ketan. Selain makan bakar2an, kami juga membeli pancake yang dijual dipinggir jalan. Kami membeli pancake banana peanut butter dan sugar lemon. Rasanya enak. Harga pancake sekitar 10rb -20rb kips. Kami juga mencoba beer Lao yang katanya enak, total biaya makan kami diluar pancake adalah 80rb kips.

Setelah makan, kami berjalan kaki sebentar melihat-lihat ke toko souvenir dan minimarket yang ada disana kemudian kembali ke hotel.

Di Vangvien banyak sekali turis, baik dari Asia, Amerika, maupun Eropa. Kualitas bahasa Inggris penduduk lokal Vangvien lebih bagus dibandingkan penduduk pinggiran Thailand.

​Keesokan paginya, kami bangun pagi dan sudah keluar Guest House jam 6, tapi ternyata jam 6 di sana masih gelap. Di dekat Guest House ada pasar kecil. Banyak ibu-ibu berjualan sayur, ikan, laukpauk, dan lain-lain.

Saya berusaha mencari jalan menuju pinggir sungai, namun pagi itu sulit sekali menemui orang yang bisa ditanyai, kebanyakan orang sibuk berjualan dan cuek terhadap turis. Akhirnya saya coba-coba saja masuk ke dalam gang, dan ternyata terdapat tempat untuk tubing, namun karena masih pagi jadi belum ada orang dan belum mulai beroperasi. Saya foto-foto saja di sekitar situ karena pemandangannya sangat bagus.

Saat sedang foto-foto, saya melihat ada balon udara di langit, dan langsung saja saya berjalan untuk berusaha mencari tempat asal balon udara. Namun setelah ketemu saya mengurungkan niat saya karena ternyata sangat mahal, yaitu sekitar USD 77 per orang.

Di Vangvien saya melihat Monk (biarawan Budha), namun sedikit berbeda dengan di Thailand, warga disini agak cuek dengan Monk tersebut. Saat Monk datang, ada 1 warga yang memukul kentongan, sepertinya untuk memanggil warga lainnya. Para Monk berdiri berjajar, dan warga melakukan pindapatta.

Tidak seperti di Sangkha Buri District (Thailand), disini warga lokal tidak menjual makanan khusus untuk pindapatta, sehingga saya bingung saat ingin ikut pindapatta, apa yang harus saya persembahkan, jadi saya hanya menonton. Setelah warga memberikan persembahan, salah satu Monk memimpin membacakan doa parita untuk warga yang sudah melakukan pindapatta. Kemudian Monk berjalan lagi ke daerah rumah warga lainnya.

Saat sedang berjalan kaki, saya bertemu supir tuktuk kemarin, dan dia menunjukkan arah pinggir sungai yang banyak didatangi orang-orang.

Saya pun berjalan kesana, dan ternyata benar saja, pemandangannya sangat bagus disana, dan telihat beberapa balon udara. Langit sangat biru, dihiasi dengan awan putih. Dari situ juga terlihat orang-orang yang sedang boating, menaiki perahu mengitari sungai. Begitu relaks dan damai saat berada disini. It’s a must place to visit.

Setelah puas foto di sekitar pinggir sungai, saya berjalan kaki mengitari pusat kota. Terdapat kafe, restoran, toko kue, travel agen, minimarket, tempat souvenir, dan toko lainnya.

Kembali ke hotel sekitar jam 8, untuk sarapan kemudian bersiap dan berkemas karena kami akan dijemput minivan jam 9.15 untuk kembali ke Vientiane. Selama sarapan, kami mengobrol dengan pemilik guesthouse, yang ternyata besar di Perancis, dan baru-baru ini kembali ke Vangvien untuk menjalankan usaha pariwisata.

Perjalanan dari Vangvien ke Vientiane dengan menggunakan minivan jauh lebih cepat dan nyaman. Kami tiba di Vientiane jam 1.15 siang, kemudian menyewa tuktuk seharga 200rb Kips untuk pergi ke 3 tempat wisata dan ke Thanalaeng.

Tips:
Disini menerima Baht tapi dalam pecahan besar. Pastikan uang kips anda cukup untuk membayar makanan dan kendaraan selama di Laos, karena kalau kurang, mereka tidak mau ditambahkan dengan Baht pecahan kecil.

Hal ini kejadian sama kita, uang Kips sisa tinggal 142rb saat mau membayar supir tuktuk, lalu kami coba hitung dalam baht yakni sekitar THB 290, dan supirnya marah dan tidak suka. Dia bilang dia tidak mau Baht, dia mau Kips. Tapi karena kami tidak punya Kips, dan pecahan Baht lainnya adalah 1000 Baht, maka kami tetap memberikan baht pecahan kecil tersebut. Kasihan sih, tapi bingung harus gimana lagi.

 

Tempat wisata di Vientiane

Nah, tempat wisata di Vientiane yang kami kunjungi antara lain:

  1. Wat Si Saket

    ​Wat Si Saket adalah Temple Buddha di Vientiane yang berlokasi di jalan Lan Xang. Wat Si Saket dibangun pada tahun 1818 atas perintah Raja Anouvong ( Sethathirath V. ). “Si” berasal dari judul bahasa Sansekerta pemujaan Sri , diawali dengan nama Wat Saket di Bangkok , yang berganti nama dengan Anouvong kontemporer , Raja Rama I.

    Wat Si Saket dibangun dalam gaya Siamese arsitektur Buddha , dengan teras sekitarnya dan atap lima berjenjang hiasan , bukan dalam gaya Lao . Mungkin kuil tertua yang masih berdiri di Vientiane.

  2. Ho Phrakeo (Haw Phra Kaew)

    Haw Phra Kaew dibangun pada 1565-1566 atas perintah Raja Setthathirath setelah ia memindahkan ibukota dari Luang Prabang ke Vientiane. Candi ini dibangun atas dasar istana kerajaan untuk rumah patung Emerald Buddha, yang dibawa oleh Raja Setthathirath dari Chiang Mai, ke ibukota Lanna, Luang Prabang.

    Candi ini digunakan sebagai tempat pribadi Setthathirath beribadah. Oleh karena itu, tidak ada biarawan biasa (penduduk) di candi ini. Tidak seperti candi-candi umum lainnya di Laos. The Emerald Buddha tinggal di kuil selama lebih dari 200 tahun, namun pada tahun 1779, Vientiane ditangkap oleh Chao Phraya Chakri Siamese Umum (yang mendirikan Chakri Dinasti di Thailand), patung tersebut dibawa ke Thonburi dan kuil hancur. Sang Buddha sekarang tinggal di Wat Phra Kaew di Bangkok, dan dianggap sebagai palladium dari Thailand.

  3. Patuxai

    Patuxai adalah kata majemuk, ‘Patuu‘ atau ‘patu‘ yang berarti ‘pintu’ atau ‘gateway’ dan ‘Xai’, turunan dari bahasa Sansekerta ‘Jaya‘, yang berarti ‘kemenangan’.

    Jadi itu berarti ‘Victory Gate’. Patuxai dibangun selama periode bergolak sejarah Lao. Patuxai dibangun ketika Laos merupakan sebuah monarki konstitusional dan awalnya hanya dikenal sebagai ‘Anousavali’ (memori) , didedikasikan untuk tentara Laos yang meninggal selama Perang Dunia II dan perang kemerdekaan dari Perancis pada tahun 1949.

  4. Pha That Luang

    Pha That Luang (Great Stupa) merupakan stupa Buddha besar berlapis emas di pusat Vientiane , Laos. Sejak awal berdirinya , diperkirakan merupakan abad ke-3, stupa telah mengalami beberapa rekonstruksi sekitar tahun 1930-an karena invasi asing daerah . Merupakan monumen nasional paling penting di Laos dan simbol nasional .

​​Di Vientiane juga banyak terdapat turis Perancis, Jerman, Korea, dan lainnya. Banyak terdapat toko kosmetik Korea dan mobil-mobil keluaran Korea. Selesai berkeliling Vientiane, kami langsung menuju Thanalaeng (imigrasi Laos menuju Thailand). Dulunya negara Laos merupakan jajahan Perancis, sehingga tidak heran banyak terdapat tulisan, petunjuk, dan nama –nama dalam bahasa Perancis.

Vientiane sangat panas dan gersang. Mendekati pinggiran masih banyak tanah merah dan sangat berdebu. Gunakan lotion dan sunblock supaya tidak hitam dan perih kulitnya.

Saat di imigrasi, kembali lagi kami harus membayar 50 Baht per orang, tidak jelas untuk apa. Kami membeli tiket kereta dari Thanalaeng ke Nongkai seharga 20 Baht per orang, kereta yang sama yang kami naiki saat datang.

Tiba di Nongkai sekitar jam 5.45 sore, lalu antri imigrasi untuk masuk ke negara Thailand. Ada kejadian lucu saat sedang berbicara dengan petugas imigrasi. Begitu petugas melihat asal negara saya, beliau bilang Indonesia (dengan susah payah).

Kemudian mereka menanyakan apa bahasa Indonesia untuk “Good Morning”. Saya jawab “Selamat Pagi”. Lalu kedua petugas imigrasi berusaha untuk menyebut “Selamat Pagi” berkali-kali, namun sangat susah, hehe… Nice try sir!

Kereta malam kami dari Nongkai menuju Bangkok berangkat jam 7.10 malam. Kami akan menghabiskan sisa trip kami dengan wisata di Bangkok. Detail kereta sleeper train sama dengan yang kami naiki saat berangkat. Saatnya beristirahat.

Sayonara Laos. I’ll be back someday!

About the author

Banker & Travel Blogger. ​Suka berpetualang untuk menikmati pemandangan alam dan berinteraksi dengan penduduk sekitar. Sangat bahagia kalau bisa berbagi cerita dan informasi kepada orang lain.

Related Posts

13 Responses
  1. Karlina

    itu pasti jadi pengalaman seru banget, saat di kereta yang awalnya tempat duduk bisa berubah menjadi tempat tidur 😀

  2. Nia

    paling enak jalan-jalan ke luar negeri adalah selain mencoba kuliner di daerah sana, juga mengambil foto di Budha Temple sekaligus berdoa. Moga ke depannya bisa jalan-jalan ke Thailand dan artikel ini akan ku jadikan acuan jalan2 kesana 🙂

Leave a Reply