Tempat Wisata di Bangkok

Hello again Bangkok!

Setelah menempuh perjalanan dari Laos dengan kereta malam yang memakan waktu sekitar 12 jam, akhirnya kami tiba di stasiun Hua Lamphong, Bangkok.

Dengan lelah dan masih terasa mengantuk, kami harus keluar dari stasiun dan naik BTS untuk kembali ke hotel tempat kami berencana menginap malam itu, yaitu Mind Executive di jalan Sukhumvit 85.

Waktu liburan di Thailand yang kami miliki masih ada 2 hari, jadi kami memutuskan untuk bersantai dan menikmati wisata di Bangkok saja. Kami sempat berniat untuk langsung melanjutkan perjalanan ke Ayutthaya, namun mempertimbangkan faktor usia kedua rekan saya, kami memilih wisata yang lebih ringan saja haha…

 

Chatuchak Market

Karena masih pagi, kami tidak bisa langsung check-in di hotel Mind Executive. Beruntung pihak hotel mengizinkan kami untuk mandi di tempat sauna. Berhubung belum bisa istirahat, kami memutuskan untuk langsung ke Chatuchak Market.

Chatuchak merupakan pasar semi-modern yang hanya buka di hari Jum’at, Sabtu, dan Minggu. Pasar ini menyediakan pakaian, tas, sepatu, kain, aroma terapi, suvenir, snack, dan masih banyak lagi barang lainnya. Sangat lengkap. Meskipun sepertinya saya sudah beberapa kali datang kesini, tetap saja tidak bisa mengitari seluruh pasar, dan bahkan masih suka nyasar.

Jajanan yang tidak boleh terlewatkan saat datang kesini adalah :

  1. Coconut ice cream THB 30 untuk 2 scoop es krim kelapa dan boleh mengambil 3 topping (sebanyak-banyaknya).
  2. Ekstrak buah delima THB 40 untuk 1 botol ekstrak buah delima.

Masih banyak jajanan lainnya, namun yang selalu saya beli setiap kesini adalah 2 yang di atas.

Tips:
Hati-hati saat kamu ingin ke Chatuchak, bukan terhadap copet, tapi terhadap godaan belanja. Kita perlu “menguatkan iman”, karena walau niat hati hanya jalan-jalan, namun bisa berakibat fatal karena pulang membawa banyak tentengan dan uang habis (baca: It happened to me). Jangan ragu untuk melakukan tawar menawar, keluarkan kemampuan menawar terbaikmu.

Cara ke Chatuchak Market:
Naik BTS Train (jalur hijau tosca) hingga stasiun Chatuchak. Tidak ada biaya masuk ke dalam area ini.

BTS Bangkok
Kereta BTS yang ditempel dengan stiker yang menarik di Bangkok
BTS Bangkok
Kartu sekali pakai BTS di Bangkok
Chatuchak
Mencoba ekstrak buah delima di Chatuchak
Chatuchak
Menikmati eskrim kelapa di Chatuchak
Chatuchak
Pajangan yang dijual di Chatuchak

Mango Tango

Wisata di Bangkok selanjutnya yang harus, wajib, kudu didatangi adalah Mango Tango. Surga untuk menikmati hidangan mangga bangkok dalam berbagai bentuk, mulai dari puding mangga, jus mangga, es krim mangga, dan yang paling fenomenal adalah potongan buah mangga segar dilengkapi dengan ketan manis.

Tahun 2012 saat saya pertama kali datang ke tempat ini, tempatnya masih kecil, mungkin hanya berisi 4 meja, dan di dalam gang kecil. Sekarang lokasinya sudah pindah dan lebih besar, dan tentunya terdapat beberapa cabang. Tapi pelayanannya menjadi kurang bagus menurut saya, tidak ramah.

Selain itu Mango Tango juga ada di Asiatique Riverfront (dekat Naraya) dan Chiangmai Nimmanhaemin Soi 13.

Selesai mengisi perut dengan mangga terbaik bangkok, kami kembali ke hotel untuk mandi dan bersiap diri untuk pergi hangout ke salah satu tempat kekinian di Bangkok, yakni Asiatique Riverfront.

Cara ke Mango Tango:
Naik BTS Train (jalur hijau tosca) dan turun di stasiun Siam, jalan ke arah Siam Square. Tepatnya di Soi 3.

Mango Tango
Menimkati lezatnya dessert di Mango Tango

Asiatique Riverfront

Karena sudah dandan cantik, kami berencana mau naik taksi. Tapi setelah berdiskusi dengan staf hotel, mereka menyarankan kami naik BTS Train, karena saat itu jam pulang kantor dan jalanan sangat macet. Setelah melihat Google Maps untuk perkiraan waktu tempuh, kami pun akhirnya mengikuti saran staf hotel tersebut. Waktu tempuh sebenarnya tergantung lokasi hotel anda, kebetulan lokasi hotel kami sangat jauh dari Asiatique. Karena tempat ini sangat terkenal, maka banyak sekali orang yang datang ke sini.

Tempatnya bagus, pasar malam yang tergolong menengah ke atas. Lebih bersih dan rapi dibanding pasar malam lainnya. Asiatique Riverfront mulai buka sekitar jam 5 sore. Terdapat restoran dan toko-toko yang menjual berbagai barang, seperti pakaian, jam tangan, tas, kain, gelas, dan masih banyak lagi.

Icon dari Asiatique adalah bianglala besar bernama Asiatique Sky yang menyala di kegelapan. Kita bisa menaiki Asiatique Sky ini dan melihat kota Bangkok dari atas di malam hari. Saya sudah pernah naik saat berkunjung ke sini tahun 2013, jadi sekarang tidak naik lagi.

Kami menikmati makan malam disini, tentu saja ditutup dengan beer Chang. Menurut saya rasanya lebih enak daripada Beer Lao. Setelah itu, kami berkeliling di area Asiatique, foto-foto, dan tentu saja, shopping.

Cara ke Asiatique Riverfront:
Naik BTS Train (Jalur hijau tua) hingga stasiun Saphan Taksin. Jalan kaki sekitar 100 meter hingga ke perhentian kapal. Naik kapal yang memang khusus disediakan dari tempat tersebut ke Asiatique.

Asiatique Riverfront Bangkok
Pemandangan Asiatique Riverfront dari kapal yang kami tumpangi
Asiatique Riverfront Bangkok
Pertunjukkan musik di Asiatique yang dilakukan oleh anak kecil untuk mengumpulkan dana
Asiatique Riverfront Bangkok
Makan malam kami di Asiatique Riverfront
Beer Chang
Bersulang untuk menikmati liburan di Bangkok yang meyenangkan
Asiatique Riverfront Bangkok
Tas dompet yang dijual di Asiatique yang menggoda iman
Foto group di Asiatique Bangkok
Foto group untuk terakhir kalinya
Asiatique Riverfront di Bangkok
Mengunjungi Asiatique Riverfront di Bangkok

***

Tidak terasa hari sudah malam, kaki sudah sangat pegal, tibalah waktu untuk pulang. Fix kita mau naik taksi saja karena sudah malam dan capek. Tapi cobaan belum berakhir, antrian taksi nya luar biasa.
Tips bagi yang mau naik taksi, jangan pulang terlalu malam karena antriannya panjang sekali, bisa menunggu 30-60 menit untuk mendapat taksi argo.
Beruntungnya kami mendapat supir taksi yang baik dan ramah, kami pun langsung membooking supir tersebut untuk perjalanan dari hotel ke bandara keesokan harinya.

Hari terakhir di Bangkok

Hari terakhir liburan kami. Sebenarnya saya pengen istirahat aja di hotel, tapi naluri wanita mengatakan “Pergi shopping”, ya sudahlah saya ikuti saja, hehe.. kebetulan ci Mel juga setuju.

Akhirnya kami kembali lagi ke Chatuchak Market. Hari ini toko yang buka lebih banyak. Tadinya saya hanya mau membeli pigura titipan cici saya, tapi apa boleh buat, keterusan belanjanya.

Setelah lelah dan kehabisan uang, kami janjian untuk makan siang di Mall Siam Paragon dengan Pak Jeff. Makan siang terakhir dan satu-satunya di mall selama liburan ini. Rasanya lumayan enak dan harganya juga tidak terlalu mahal sebenarnya. Setelah makan, kami pulang kembali ke hotel untuk membereskan barang belanjaan dan koper, sembari menunggu taksi yang sudah kami booking semalam.

 

Long Live the King

Karena waktu itu, tanggal 5 Des adalah hari ulang tahun Raja Thailand, maka semua orang merayakannya. Dari hari-hari sebelumnya banyak yang menjual kaos berwarna kuning biru yang sebagian bertuliskan Bike for Dad, dan kami pun ikut membeli, dan memakainya.

ulang tahun raja Thailand
Ikut menggunakan kaos untuk merayakan ulang tahun raja Thailand

Tidak lama supir taksi datang dan kami langsung diantar ke bandara. Karena supir ini baik hati, selain membayar argo taksi, semua sisa uang koin kami berikan ke supir tersebut.

Pada saat sedang menunggu di bandara, Pak Jeff pergi ke salah satu toko, dan para penjaga toko sedang menyalakan lilin. Beliau bertanya untuk apa lilin tersebut. Beliau amazed mendengar jawaban dari penjaga toko. Kata mereka, “Lilin ini untuk merayakan ulang tahun Raja”. Jadi pada jam 8 malam itu, di televisi sedang berlangsung perayaan ulang tahun Raja Thailand, dan mereka yang tidak berada langsung di acara tersebut pun ikut merayakan dengan menyalakan lilin masing-masing. Sungguh luar biasa sekali rasa cinta mereka terhadap Rajanya.

Sekitar jam 10 malam kami akhirnya boarding dan liburan kami pun berakhir.

***

Jalan-jalan ke Thailand kali ini sangat luar biasa, karena selain menikmati banyak pemandangan yang indah, saya juga mempelajari hal-hal baru. Saya merasa benar-benar berpetualang dan menjadi orang yang lebih tangguh dari sebelumnya. Seperti kata orang bijak:

The World is a book and those who do not travel read only one page—St. Agustine.

Travel leaves you speechless, then turns you into a storyteller—Ibn Battuta

That’s what I did.

Terima kasih untuk teman petualang saya, Melani Megawati dan Jeffrey Sukardi. Semoga cerita liburan ke Thailand saya kali ini menginspirasi kamu.

About the author

Banker & Travel Blogger. ​Suka berpetualang untuk menikmati pemandangan alam dan berinteraksi dengan penduduk sekitar. Sangat bahagia kalau bisa berbagi cerita dan informasi kepada orang lain.

Related Posts

9 Responses
    1. Untuk kartu MRT nya ada yang sekali pakai ada yang bisa diisi ulang, sesuai kebutuhan aja.
      Kalau cukup lama sebaiknya beli yang isi ulang jadi tidak perlu membeli setiap akan naik kereta.

    1. So many thanks Nina udah mampir di blog saya. Sebagai tambahan referensi bisa lihat di 3 artikel sebelumnya karena juga ga kalah menarik, hehe..
      Dan kalau pengen liat-liat info wisata bisa follow IG aku di @lynnhalianto.
      Happy travelling:)

    1. Hi mas Andy,
      Thailand negara yang aman kok untuk travelling. Selain itu transportasi dan akomodasi juga terbilang mudah, jadi ga ada alesan ga berani hehe..
      Happy travelling!

  1. Denny Sutanto

    Mbak Lynn, gak ke Thailand utara seperti Chiang Mai atau Chiang Rai? Bisa juga nyebrang ke Tachileik (Myanmar) via darat dari kota Mae Sai lho.
    Mostly Indonesian lbh explore ke Bangkok pdhl Chiang Mai jauh lbh exotic

Leave a Reply