Rekomendasi Wisata di Thailand selain Bangkok-Pattaya

Ini bukan yang pertama kali saya liburan ke Thailand, tapi sudah ketiga kalinya. Jadi sebenarnya Thailand bukan prioritas destinasi wisata saya lagi, malah sudah agak bosan. Saya sempat anti mendengar ajakan jalan-jalan ke Thailand, karena pada kedua kunjungan saya sebelumnya, objek wisata yang dikunjungi kurang lebih Buddhist Temple, shopping di Platinum atau Pratunam, menyaksikan cabaret show, mencoba kuliner khas Thailand atau ke night market.

Namun, gara-gara melihat postingan foto teman saya yang memposting foto sedang berada di Taman bunga matahari, langsung menarik perhatian saya. Ternyata lokasi Taman bunga matahari tersebut adalah Saraburi, Thailand.

Saya merasa surprise ternyata ada kota lain di Thailand, selain Bangkok, yang sangat menarik untuk dinikmati. Dari situlah ide perjalanan ini di mulai. Kami akan mengunjungi Sangkhla Buri District dan Lopburi.

Kedua kota ini pasti terdengar asing bagi orang Indonesia, karena memang belum se-terkenal Bangkok. Karena tidak terlalu ramai, membuat saya lebih santai dan menikmati pemandangan disini.

Pemerintahan Thailand sangat luar biasa dalam memperhatikan pariwisata, di kota yang jaraknya 6-7 jam dari Bangkok, infrastruktur sangat bagus, jalan mulus, sinyal HP kuat, distribusi makanan, dan lainnya sangat bagus. Berbeda dengan Indonesia, untuk kota-kota kecil seringkali jalanan masih tanah, dan tidak ada signal HP.

 

Bermalam di Bangkok

Berangkat dari Jakarta dengan pesawat Air Asia, kami mendarat di Bandara Don Mueang sekitar pukul 6 sore. Perjalanan dari Jakarta – Bangkok menempuh waktu sekitar 3 Jam.

Dari Bandara, kami langsung menuju Hotel @Mind Executive 85 di Soi 8 Sukhumvit 85 dengan menggunakan taksi sekitar 1 jam. BTW, untuk mencari taksi resmi dengan argo, kamu tinggal keluar bandara dan langsung jalan ke arah kiri.

Karena naik taksi carteran jadi bayarnya lebih mahal, THB 500 dan tol THB 120, tapi berhubung supir taksinya kaya pembalap F1 jadi nggak papa, jadi lebih cepat sampai.

Malam hari, kami memutuskan untuk makan di sekitar hotel saja, dan kemudian pergi ke Rod Fai Night Market menggunakan taksi (sekitar THB 300 PP). Nah, night market ini terbilang baru, dan menarik untuk dikunjungi. Barang yang dijual hampir sama dengan night market lain, baju, aksesoris, dan tentu saja makanan.

sup tomyam Bangkok
Sup tomyam yang menjadi menu makan malam saat pertama kali tiba di Bangkok
Pad thai Thailand
Kami juga memesan Pad thai untuk makan malam
Rod Fai night market
Wefie di Rod Fai night market yang kami kunjungi di malam pertama di Bangkok

Perjalanan menuju Kanchanaburi dan Sangkhla Buri District

Liburan sebenarnya baru dimulai. Esoknya, kami berangkat menuju luar kota Bangkok dengan menggunakan mobil sewaan dan driver, Mr. Jack. Mobil sudah disewa dari Jakarta sebelumnya, namun pembayaran langsung ke driver.

Harga sewa THB 10500 all in. Driver bisa berbahasa inggris namun tidak fluent, namun pelayanannya sangat luar biasa, seperti membelikan minuman untuk selama perjalanan, membelikan snack, inisiatif ke objek yang bagus, dan masih banyak lagi.

Buat kamu yang ingin sewa mobil di Bangkok, silahkan kontak driver-nya berikut:

Mr. Jack
+66830089106
+66817509935

Dari Bangkok ke Kanchanaburi sekitar 3 jam tanpa macet. Disini kita bisa melihat Burma Railway atau Death Railway.

Death Railway adalah rel kereta api sepanjang 415 Km antara Thanbyuzayat, Burma dan Ban Pong, Thailand. Dibangun tahun 1943 oleh Jepang untuk mendukung pasukannya dalam kampanye Burma Perang Dunia 2. Jalur antara Bangkok dan Rangoon (Burma) ini ditutup tahun 1947, namun akhirnya dibuka kembali Tahun 1957 untuk jalur Nong Pla Duk dan Nam Tok.

Area ini ramai dikunjungi turis, tidak heran banyak tersedia toko-toko yang menjual souvenir dan jajanan. Kami pun ikut menikmati es kelapa seharga THB 140 untuk 4 orang. Kami sempat berhenti sejenak untuk istirahat dan makan siang. Restorannya sangat ramai, makanannya enak, dan pelayannya ramah. Total makan siang kami sekitar THB 800.

Death Railway di Kanchanaburi
Mengunjungi Death Railway di Kanchanaburi
Death Railway di Kanchanaburi
Pemandangan rumah apung yang berada di sekitar Death Railway di Kanchanaburi
Death Railway di Kanchanaburi
mengeksplor rel kereta yang sudah tidak aktif digunakan di Death Railway di Kanchanaburi

Perjalanan ke Sunken Temple (Sangkhla Buri District), tujuan kami selanjutnya sangat jauh, sekitar 4-5 jam perjalanan. Begitu sudah tiba, Mr. Jack membawa kami ke satu temple, lalu saya bilang tujuan kami ke Sunken Temple dan kami mengejar waktu sebelum gelap.

Ternyata kuil yang kami datangi pertama kali adalah kuil baru yang sekarang digunakan sebagai pengganti kuil yang lama. Dan sebaiknya sebelum datang ke temple yang lama, kita terlebih dahulu ke kuil yang baru untuk menghormati atau seperti meminta izin. Jaraknya sekitar 10 menit naik mobil.

Untuk masuk ke dalam kuil baru harus memakai pakaian yang pantas, jadi karena saya pakai celana pendek, saya pakai kain lagi untuk menutupinya. Sandal/ sepatu pun harus dilepas. Temple tutup jam 5 sore.

Sunken temple di Sangkhla Buri
Mengunjungi Sunken temple yang baru dibangun kembali di Sangkhla Buri
Sunken temple di Sangkhla Buri
Kondisi bagian dalam Sunken temple yang baru

Untuk mencapai Sunken Temple (old temple), kita harus menyewa perahu. Tersedia beberapa pilihan paket wisata perahu. Kami memilih paket dengan 3 lokasi tujuan dengan harga THB 500/orang (yang akhirnya ditawar oleh driver kami jadi THB 400/orang).

Pengendara perahu membawa kami ke lokasi pertama, yang dilihat hanya sisa bangunan yang tinggal sedikit dan terendam air (hanya dilihat dari perahu).

Sunken temple di Sangkhla Buri
Mengunjungi underwater Sunken temple yang pertama

Lokasi kedua berada di dalam hutan, perahu berhenti di tepi sungai dan kami berjalan kaki sekitar 200m. Kondisi temple pun sudah hancur, namun masih ada patung Buddha dan banyak orang yang berdoa.

Sunken temple di Sangkhla Buri
Mengunjungi underwater Sunken temple yang kedua
Sunken temple di Sangkhla Buri
Sisi lain dari underwater Sunken temple yang kedua

Sementara, lokasi ketiga adalah bangunan yang paling terkenal. Bangunan berada ditengah sungai. Sebenarnya kami bisa menepi dan berjalan mengitari temple, namun karena sudah gelap kami memutuskan untuk memfoto dari perahu.

Pada musim tertentu atau waktu tertentu, air disekitar temple ini bisa surut, dan orang dapat berjalan kaki untuk mencapainya. Namun dengan kondisi terendam air pun, masih ada warga yang berjalan kembali dari temple dengan berjalan menyeberangi air. Jika ingin mengambil foto sunset, sebaiknya sudah standby di lokasi ini sekitar jam 5 sore.

Sunken temple di Sangkhla Buri
Mengunjungi underwater Sunken temple yang ketiga dan yang paling sering dikunjungi oleh turis

​Dari sunken temple, langsung ke Oh Dee hostel dan makan malam di pasar malam sekitar hostel. Diluar ekspektasi, Oh Dee hostel sangat unik dan nyaman. Seperti hostel pada umumnya, kamar mandi terletak diluar kamar dan share dengan penghuni lain. Fasilitas yang tersedia antara lain dapur umum dengan peralatan lengkap, meja billiard, cafetaria yang digunakan untuk sarapan pagi, dan ruang tamu untuk menonton Tv.

Pemilik Oh Dee hostel, Jimbo, adalah orang yang senang fotografi sehingga tidak heran di area resepsionis banyak ditempel foto tempat-tempat wisata di Sangkhla Buri yang tidak lain adalah hasil karyanya sendiri. Asiknya, dia memberi tahu kami spot untuk mengambil foto.

Oh Dess hostel di Sangkhla Buri
Kami bermalam di Oh Dess hostel di Sangkhla Buri
Oh Dess hostel
Kamar kami di Oh Dess hostel

Hunting Sunrise di Wooden Mon Bridge

Kami bangun pagi sekali karena sudah janjian dengan driver akan dijemput jam 5.40, rencananya pagi itu kami akan hunting sunrise. Kami menuju lokasi sunrise yang sudah diberi tahu oleh Jimbo, dan benar sekali pemandangannya sangat indah.

Matahari perlahan menampakan dirinya, menyinari Wooden Mon Bridge, jembatan kayu terpanjang di Thailand, dan sungai yang ada di bawahnya. Sungguh awal hari yang menyenangkan.

Wooden Mon bridge Sangkhla Buri
Pemandangan wooden Mon bridge saat sunrise by Jeffrey Sukardi
Wooden Mon bridge Sangkhla Buri
Mengejar sunrise di Wooden Mon bridge Sangkhla Buri

Setelah puas mengambil foto dan sinar matahari sudah mulai merata, kami pun lanjut ke Mon Village.
Setiap pagi di Mon Village ada ritual Pindapatta. Turis boleh ikut melakukan pindapatta. Banyak warga lokal yang menjual paket makanan untuk pindapatta dengan harga THB 99.

Orang yang mau melakukan pindapatta harus berbaris terlebih dahulu, kemudian nanti Monk akan berjalan melewati barisan tersebut.

Saat melakukan pindapatta, khususnya saat akan memasukan makanan ke dalam patta, kita tidak boleh mengenakan sepatu atau sandal. Kalau masih mengenakan sepatu/sandal, Monk tidak akan mau menerima persembahan kita, dia akan berhenti dan menunjuk ke arah sepatu/ sandal.

Persembahan yang diberikan kepada 1 Monk adalah 1 sendok nasi dan 1 snack. Semua makanan yang ada ditangan kita harus habis, jadi diberikan kepada seluruh Monk yang ada.

Ritual ini sudah terkenal sehingga banyak sekali turis yang ikut melakukannya. Mereka, dan juga termasuk saya, sangat bersemangat melakukannya. Selain karena ini merupakan hal yang unik, juga akan membawa karma baik.

Pindapatta di Sangkhla Buri
Saya ikut mengikuti ritual pindapatta
Pindapatta di Sangkhla Buri
Warga ikut melakukan pindapatta di Sangkhla Buri
Pindapatta di Sangkhla Buri
Warga memberikan nasi saat pindapatta
Pindapatta di Sangkhla Buri
Ada juga anak kecil yang ikut melakukan pindapatta
Pindapatta di Sangkhla Buri
Deretan biksu yang mengikuti kegiatan pindapatta

Selanjutnya kami berjalan menuju ke Wooden Mon Bridge, jembatan kayu terpanjang di Thailand. Sangkhla Buri berada dekat perbatasan dengan Myanmar, sehingga budaya yang ada di sini bercampur antara Thailand dan Myanmar. Nama suku yang tinggal disini adalah Suku Mon.

Sesuai namanya, jembatan ini terbuat dari kayu, sempat hancur di tengahnya, namun akhirnya sudah dibangun kembali. Kebanyakan turis yang datang kesini adalah warga Thailand dari kota lain. Dari Wooden Mon Bridge, anda dapat menikmati pemandangan yang luar biasa. Cocok bagi orang yang stres dengan kehidupan di perkotaan.

Karena ini merupakan jembatan kayu terpanjang di Thailand, maka saya membulatkan tekad harus sampai di sisi jembatan yang satunya. Perjalanan ini terasa sangat panjang, karena sebentar-sebentar saya berhenti untuk mengambil foto, hehe..

Untuk masuk ke Wooden Mon Bridge tidak dipungut biaya, namun ada kotak sumbangan jika anda ingin sukarela memberikan uang.

Saat matahari mulai terasa panas, kami memutuskan kembali ke hotel untuk bersiap melanjutkan perjalanan. Sampai di hotel sekitar jam 9 lewat, seharusnya waktu sarapan sudah lewat, namun Jimbo tetap memperbolehkan kami untuk menikmati roti, biskuit, teh/ kopi untuk sarapan.

Wooden Mon bridge Sangkhla Buri
Pesona wooden Mon bridge yang cantik difoto dari drone by Jeffrey Sukardi
Wooden Mon bridge Sangkhla Buri
Menikmati berjalan dan berfoto di sepanjang wooden Mon bridge
Wooden Mon bridge Sangkhla Buri
Duduk santai sambil menghirup udara segar di wooden Mon bridge
Wooden Mon bridge Sangkhla Buri
Potret pemandangan hijau dan segar yang dilihat saat berada di wooden Mon bridge
Wooden Mon bridge Sangkhla Buri
Kami sangat bahagia karena bisa mengunjungi wooden Mon bridge yang sangat menarik dan berkesan
Wooden Mon bridge Sangkhla Buri
Warga Thailand yang tinggal di sekitar Mon bridge memiliki ciri khas menggunakan bubuk di wajahnya

Menuju Lopburi

​Sekitar jam 11 siang, kami berangkat dari Oh Dee hostel menuju Lopburi. Saat memulai perjalanan saya berpesan pada driver untuk menyetir dengan santai saja, dan kalau ada objek wisata yang bagus kita bisa berhenti karena kami tak ingin buru-buru tiba Lopburi.

Karena drivernya pinter, pesan singkat membuahkan hasil luar biasa, sepanjang perjalanan masih di Sangkhla Buri, kami berhenti di beberapa lokasi Patung Buddha, dan yang paling keren adalah Jack mengantar kami ke Khao Laem Lake.

Sempat bingung ini tempat apa, karena tidak terletak di pinggir jalan, harus masuk ke dalam. Karena sampai disana pas jam 12 siang, saya agak malas-malasan keluar dari mobil, tapi supaya cepat beres jadi harus tetap turun.

Dan ternyata pemandangannya luar biasa. Menghabiskan waktu kurang lebih 45 menit untuk berfoto dan bergosong ria disini, tapi happy. Harga tiket masuk untuk 4 orang + 1 mobil adalah THB 110. Akhirnya setelah puas berpanas-panasan, kami melanjutkan perjalanan ke Lopburi. Kami baru sampai di Lopburi sekitar jam 8 malam.

Kami menginap di Benjatara Hotel di Lopburi. Bangunan hotel yang sudah tua membuat hotel terkesan angker, mungkin juga karena kami tiba di lokasi sudah malam. 10 menit jalan kaki dari hotel ada Big C (supermarket), dan beberapa restaurant. Kami memilih MK Restaurant untuk menikmati makan malam.

Khao Laem lake
Berhenti sejenak istirahat menikmati pemandangan di Khao Laem lake
Khao Laem lake
Mengunjungi Khao Laem lake yang sangat indah
Sangkhla Buri
Patung Buddha tidur yang ditemui di perjalanan di Sangkhla Buri
Sangkhla Buri
Rupang Buddha putih yang ditemui di perjalanan di Sangkhla Buri
Sangkhla Buri
Terdapat banyak patung Buddha yang dijumpai di sekitar Sangkhla Buri

Phra Prang Sam Yod di Lopburi

Kali ini kami janjian bertemu di tempat sarapan agak siang yakni jam 6.30 karena memang tidak terburu-buru.
Menikmati sarapan di hotel, lalu check out dan mengunjungi objek wisata yang ada di kota Lopburi.
Kami diajak ke Temple orang Hindu, sebelumnya saya agak bingung tempat apa itu, karena cara beribadahnya berbeda dengan umat Buddha. Dan sepertinya hari itu ada perayaan karena banyak sekali orang yang datang ke temple tersebut.

Lopburi
Temple yang dikunjungi umat hindu di Lopburi

Di seberang temple terdapat bangunan tua umat Hindhu Thailand, yakni Phra Prang Sam Yod. Bangunan tua ini sudah tidak ditinggali, dan menjadi objek wisata di tengah kota. Namun anda perlu hati-hati kalau datang ke sini, karena dihuni oleh banyak sekali monyet. Driver dan teman saya sudah menjadi korbannya.

Tips : jika monyet melompat ke arah Anda dan Anda tidak sempat menghindar, jangan memaksa menarik monyet untuk pergi karena monyet akan semakin mencengkram tubuh Anda dan dapat menggigit. Dan kalau anda terkena gigitan, segera ke klinik untuk dibersihkan diberikan obat.

Untuk masuk ke dalam kawasan ini harus membayar tiket masuk THB 50 per orang.

Phra Prang Sam Yod
Tiket untuk masuk ke Phra Prang Sam Yod
Phra Prang Sam Yod di Lopburi
Mengitari Phra Prang Sam Yod di Lopburi
Lopburi
Foto keluarga di kuil Phra Prang Sam Yod
Kuil di thailand
Phra Prang Sam Yod

Sunflower Field di Lopburi

Sebelum kembali ke Bangkok, kami mengunjungi beberapa sunflower field di Lopburi. Salah satu wisata di Thailand yang ingin saya kunjungi. Akhirnya, kesampaian juga untuk mengunjungi ladang bunga Matahari ini.

Baca cerita selengkapnya: Mengunjungi Sunflower field di Lopburi

Sunflower field
Menikmati indahnya taman bunga matahari di Thailand
Sunflower field
Bunga matahari yang sedang mekar di Lopburi
Sunflower field
Sunflower field pertama

***

Itinerary Perjalanan

Nah, buat kamu yang sedang bosen menikmati wisata di Thailand yang itu-itu saja, kamu bisa pergi ke luar Bangkok. Begini kira-kira itinerary perjalanan kami selama 4D3N:

  • Day 1
    Tiba di Bangkok dan menginap di Bangkok.
  • Day 2
    Perjalanan dari Bangkok to Kanchanaburi, hingga Sangkhla Buri dan menginap disana.
  • Day 3
    Hunting sunrise di Sangkhla Buri. Kemudian melanjutkan perjalanan ke Lopburi dan menginap disana.
  • Day 4
    Mengunjungi sunflower field di Lopburi dan kembali Bangkok
About the author

Banker & Travel Blogger. ​Suka berpetualang untuk menikmati pemandangan alam dan berinteraksi dengan penduduk sekitar. Sangat bahagia kalau bisa berbagi cerita dan informasi kepada orang lain.

Related Posts

0 Response

Leave a Reply