Tempat wisata di Pulau Jeju yang Anti Mainstream

Kalau Indonesia punya Pulau Bali, Korea Selatan punya yang namanya Pulau Jeju.

Pulau Jeju ini merupakan pilihan favorit bagi orang Korea Selatan sebagai tempat berlibur. Topografi pulau Jeju terbentuk sekitar 2 juta tahun lalu dari aktivitas vulkanis, sehingga tidak heran terdapat banyak gunung berapi yang dijadikan sebagai tempat wisata di Pulau Jeju.

Jangan khawatir, semua gunung berapi di sini sudah tidak aktif, dan saat ini ditumbuhi oleh tanaman dengan sangat lebat.

Nah, salah satu tempat wisata di Pulau Jeju berupa gunung berapi yang terkenal adalah Seongsan Ilcubong.

Menurut teman saya yang orang Korea Selatan dan sudah seringkali mengunjungi pulau Jeju, waktu terbaik untuk datang ke pulau Jeju adalah musim gugur, walaupun menurut saya Pulau Jeju selalu cantik sepanjang tahun.

​Untuk kedua kalinya saya mengunjungi pulau Jeju di musim dingin. Saya membeli tiket pesawat Asiana dengan rute Gimpo — Jeju melalui website resmi Asiana Airlines dengan harga tiket pesawat sekitar Rp 500.000/orang (waktu itu).

Notes:
Untuk penerbangan dengan Asiana Airlines, pastikan kamu tidak menyimpan baterai di dalam bagasi. Setiap penumpang hanya boleh membawa 5 baterai untuk handcarry, termasuk power bank dan modem wifi.

 

Gagal sewa mobil di Jeju

Sesampainya di Jeju airport sekitar jam 3 sore, saya mengambil bagasi dan segera mencari counter rental mobil karena rencananya saya akan sewa mobil di Jeju sebagai alat transportasi kami selama keliling Pulau Jeju.

Sebelumnya, Saya sudah melakukan reservasi melalui rentalcars.com sejak dari Indonesia dan juga sudah membuat SIM internasional khusus untuk mengendarai mobil di pulau Jeju.

Baca juga: Cara membuat SIM internasional

Namun, saat tiba di counter rental mobil, saya terkejut saat diberitahukan oleh petugas bahwa SIM internasional dari Indonesia tidak berlaku di Korea Selatan karena Indonesia tidak tergabung dalam Vienna Convention.

Waduh, pikiran dan perasaan saya campur aduk. Saya cari di Wikipedia yang dalam bahasa Indonesia, menyatakan kalau Indonesia masuk dalam Vienna Convention, tapi begitu saya buka Wikipedia dalam bahasa Inggris karena mau menunjukkan ke petugas, tidak ada nama Indonesia. Saya sempat bolak-balik ke tourist information untuk minta bantuan, tapi hasil akhirnya tetap nihil, saya tidak bisa mengambil mobil yang sudah saya pesan sebelumnya.

Beruntung saya dibantu oleh teman di Indonesia yang segera menghubungi pihak rentalcars.com untuk membatalkan reservasi saya. Akhirnya, uang dikembalikan walaupun prosesnya membutuhkan waktu beberapa hari.

 

Pertolongan dari Komunitas Couchsurfing

Hari semakin sore, saya akhirnya naik bus umum menuju hotel tempat kami menginap, karena lokasinya cukup jauh, sekitar 1 jam lebih. Saya menggunakan T-money untuk pembayaran transportasi umum selama di Korea Selatan.

Rencana untuk langsung mengunjungi pantai di hari itu gagal total. Saya pun masih harus memikirkan bagaimana untuk besok, karena saya berencana untuk mengunjungi beberapa tempat wisata di Pulau Jeju yang jauh dan juga berpindah hotel. Saya sangat pusing membayangkan harus naik turun bus umum dengan membawa 2 koper ukuran besar dan 1 koper kecil, apalagi saya bepergian bersama mama saya.

Selama perjalanan menuju hotel, saya mencoba menghubungi teman dari komunitas Couchsurfing, yang juga sedang berada di Jeju dan kebetulan sempat menghubungi saya saat saya masih di Jakarta. Dan beruntungnya, ada yang berbaik hati menawarkan diri untuk melakukan reservasi mobil atas nama dirinya (orang Korea) dan mengantarkan saya dan mama saya untuk berkeliling Pulau Jeju. Tentu, biaya sewa mobil dan bensin ditanggung oleh saya sendiri.

Terus terang ini pengalaman pertama saya dengan teman dari Couchsurfing, ada rasa ragu, takut, tapi juga sangat tertarik akan bantuannya. Setelah meminta nasihat dari teman, akhirnya saya memutuskan untuk menerima tawaran tersebut dan kami janjian untuk bertemu keesokan harinya di hotel tempat saya menginap. Sedikit lega karena tidak perlu pusing memikirkan transportasi untuk berkeliling Pulau Jeju lagi.

hotel di Jeju
Menuju hotel Ahora setelah turun dari bus

Langit sudah mulai gelap saat saya tiba di Hotel Ahora Jeju, namun masih terlihat pemandangan danau yang lokasinya persis di seberang hotel. Saya dan mama sempat berfoto-foto sebentar.

Malam harinya, kami berjalan kaki menuju restoran yang sangat terkenal akan seafoodnya, namun sayang sudah tutup dan akhirnya kami pindah ke restoran lain. Rasa makanannya enak. Awalnya saya menganggap harga makanan di Jeju cukup mahal, tapi setelah membandingkan dengan Busan dan Seoul, ternyata makan seafood di Jeju itu paling murah. Jadi puas-puasin ya hehe…

Pemandangan malam hari di depan Ahora hotel di Jeju
Pemandangan malam hari di depan hotel Ahora di Jeju
makanan di Jeju
Grilled Mackerel, Abalone/ seafood soup, and side dishes
Jeju island
Mama Berfoto bersama pemilik restoran
restoran di Jeju
Penampakan dari depan restoran yang kami datangi untuk makan malam

​Kamar yang kami tempati juga nyaman, kamarnya cukup luas, ada wifi di kamar, ada heater sehingga kami tidak kedinginan. Ada supermarket GS25 persis di pintu masuk hotel, dan juga ada restoran, jadinya tidak akan kelaparan. Harga kamar per malam yang saya sewa adalah Rp 663.000,- (tanpa breakfast).

hotel di Jeju
Kondisi kamar di Ahora hotel

 

Keliling tempat wisata di Pulau Jeju

​Keesokan harinya, saya dan mama dijemput oleh Hahyuck—teman Korea yang membantu menyewakan mobil—di hotel Ahora. Hari ini kami akan berkeliling pulau Jeju. Semua destinasi di Jeju yang saya kunjungi kali ini, semua atas rekomendasi Hahyuck. Saya dan mama cuma duduk manis di mobil aja.

wisata ke Jeju
Saya, mama, dan Hahyuck
  1. Kebun Bunga Canola

    Tempat pertama yang kami kunjungi adalah kebun bunga Canola. Letaknya di pinggir jalan, tidak jauh dari hotel. Pengunjung bebas untuk menikmati hamparan bunga canola ini dari luar kebun, kalau mau masuk dan foto narsis di tengah-tengah canola, cukup membayar 1000 Won per orang (1 Won = Rp 13).

  2. Yongnuni Oreum

    ​Setelah puas berfoto di kebun Bunga Canola, kami melanjutkan perjalanan ke salah satu bekas gunung berapi bernama Yongnuni Oreum. Yang menarik dari perjalanan saya di pulau Jeju kali ini adalah, saya diajak ke tempat-tempat yang biasanya didatangi oleh warga lokal, jadi jarang sekali ada turis.

    Sayangnya cuaca sedang tidak bersahabat sehingga angin sangat kencang dan berkabut, membuat kami tidak bisa berlama-lama di sini. Tapi dengan kondisi cukup buruk sekalipun, tempat ini tetap memberi kesan yang indah untuk saya.

    Dari atas gunung, saya bisa melihat pemandangan pulau Jeju. Oh ya, untuk masuk ke sini kita tidak dikenakan biaya alias gratis.

  3. Jeolmul Recreational Forest

    ​Destinasi berikutnya adalah Jeolmul Recreational Forest. Kalau di Indonesia sih ya seperti hutan pinus di Bandung atau Jogja gitu, hanya lebih luas dan dirawat dengan baik, dan lebih bervariasi spot fotonya. Harga tiket masuk ke sini juga murah, cuma 1000 Won.

    Jeolmul Recreational Forest
    Suasana romantis di Jeolmul Recreational Forest

     

  4. Olle Market

    ​Tempat berikutnya merupakan salah satu tempat favorit saya, Olle market.

    Olle market ini seperti pasar basah atau pasar ikan. Kenapa favorit ? karena saya bisa menikmati sashimi yang benar-benar fresh, jadi ikannya baru dipotong setelah kita beli. Saya juga sempat melihat waktu ikan diiris-iris. Saya tidak tau nama ikan yang saya makan, tapi ini sashimi terbaik selama hidup saya. Luar biasanya lagi, sashimi ini terdiri dari beberapa bagian tubuh ikan, kebayang kan ya lezatnya.

    Kami membayar 30.000 Won untuk 1 Kg ikan, sebagian dipotong untuk sashimi dan sisanya dibawa ke restoran terdekat untuk dimasak sup. Kami membayar 10.000 Won untuk upah masak, sudah termasuk side dish, nasi, dan minum untuk 3 orang.

  5. Jungmun Beach

    ​Setelah kenyang makan dan senang banget setelah makan sashimi super fresh, kami menuju Jungmun beach. Sebenarnya saya sudah pernah ke Jungmun Beach, tapi kali ini saya tidak benar-benar menginjakkan kaki di pantai, melainkan melihat pemandangan pantai dari Sila Hotel. Jadi seperti melihat pantai dari tebing. Ini juga saya tak akan kepikiran pergi ke sini kalau tidak bersama Hahyuck.

    wisata di Jeju
    Memasuki Taman di dalam kawasan Sila Hotel untuk melihat pemandangan Jungmun beach

    Tempat wisata di Pulau Jeju — Jungmun Beach
    Melihat Jungmun beach dari ketinggian
  6. Suwolbong Peak

    Perjalanan mengitari pulau Jeju kami lanjutkan menuju Suwolbong Peak. Namun, langit terlanjur gelap sebelum kami sampai di Suwolbong Peak. Kami tetap berhenti dan melihat pemandangan di sini.

    Ya ampun, disini bagus banget, bisa terbayang kalau sunset pasti cantik sekali. Yang unik, di pinggir tebing, ada batu yang menyerupai muka manusia dan yang bikin nyaman (walaupun hujan dan angin gede), di sini tak ada turis, jadi rasanya tenang banget hehe… Seandainya cuaca bagus, Suwolbong Peak ini boleh dibilang jadi tempat wisata di Pulau Jeju yang paling saya rekomendasikan.

sewa mobil di Jeju
Hahyuck dengan mobil sewaan kami

Setelah hari semakin gelap dan makin sulit untuk bisa melihat pemandangan lagi, kami kemudian beranjak dan menuju arah hotel tempat kami akan menginap malam ini, yakni Yellow Guesthouse. Pemandangan di sepanjang jalan sangat romantis sekali, pantai di sisi kiri disertai kincir angin di sepanjang jalan, kalau yang suka nonton drama Korea pasti bisa membayangkannya hehe…

Kami sempat mampir di Hyupjae beach, tapi hanya melihat dari dalam mobil karena angin sangat kencang dan langit sudah gelap.

wisata di Jeju
Pemandangan kincir angin yang terkenal di Jeju

​Setelah check-in di guesthouse, kami jalan kaki ke salah satu Korean BBQ restaurant yang menyajikan black pig, daging babi khas di pulau Jeju. Penyajiannya tetep ala BBQ. Tempatnya nyaman, makanan enak, pelayanannya juga bagus, dan harganya tidak mahal, sekitar 70.000 Won untuk 3 orang.

restoran di Jeju
Makan di korean BBQ di Jeju
Jeju island
Berfoto bersama setelah makan malam

Teman Korea saya Hahyuck malam itu ikut menginap di Yellow guesthouse karena besok pagi mau mengantar saya dan mama ke bandara. Dia bayar sendiri loh biaya sewa kamarnya, baik banget.

Kamar di sini lebih sempit dibanding hotel sebelumnya, heater-nya masih tradisional, jadi ada lapisan penghangat di atas tempat tidur dan ada tombol on/off-nya . Tidak ada lift jadi harus mengangkat koper sendiri, untung cuma lantai 2 dan ada Hahyuck, hehe…

Harga kamar per malam yang saya sewa adalah Rp 450.000,- (dengan breakfast). Biaya sewa mobil + bensin sekitar 44.000 Won.

hotel di Jeju
Kondisi kamar di Yellow Guesthouse

Keesokan hari kami diantar ke bandara oleh Hahyuck dan ditemani sampai tiba waktunya boarding, so nice. Saya dan mama akan terbang menuju Busan dengan pesawat Jeju Air.

Baca juga semua cerita perjalanan di Korea Selatan.

About the author

Banker & Travel Blogger. ​Suka berpetualang untuk menikmati pemandangan alam dan berinteraksi dengan penduduk sekitar. Sangat bahagia kalau bisa berbagi cerita dan informasi kepada orang lain.

Related Posts

2 Responses
  1. Lia

    Payment di website resmi Asiana memakai apa sis ? saya bulan maret kemarin nyoba pakai cc bca sama cc mandiri gagal di verification payment terus

Leave a Reply