Saya merasa girang dan semangat, tapi juga deg-degan, setelah selesai melakukan pembelian tiket pesawat menuju Jayapura. Impian untuk mengunjungi Papua, pulau yang berada di ujung timur Indonesia, akhirnya terwujud.
Saya menghabiskan 2 hari 1 malam di Jayapura. Walaupun sangat singkat, liburan ke Jayapura ini sangat berkesan karena memberikan pengalaman unik dan menyenangkan untuk saya.
Mulai dari rencana liburan yang sangat mendadak, melihat betapa indah dan majunya kota Jayapura, hingga euforia menginjakkan kaki di Papua Nugini. Semua kelancaran dan pengalaman tak terlupakan dalam liburan ini berkat teman yang baik hati, Pak Hogi, yang berkenan untuk mengantar saya berkeliling selama di Jayapura.
Bukit Teletubbies
Destinasi pertama kami di Jayapura adalah Bukit Teletubbies. Bukit ini terletak di Kampung Doyo Lama, Distrik Waibu, yang dapat di tempuh sekitar 15 menit menggunakan mobil dari bandara Sentani.
Setibanya di Bukit Teletubbies, kami perlu sedikit hiking untuk mencapai bukit. Bukitnya tidak tinggi namun kami harus tetap berhati-hati karena tanahnya licin dan kami tidak menggunakan sepatu khusus hiking. Tempat ini diberi nama Bukit Teletubbies karena bentuknya menyerupai bukit yang ada di film Teletubbies.
Dari Bukit Teletubbies ini, saya bisa melihat 2 sisi pemandangan yang berbeda, yakni pemandangan danau Sentani dan hamparan padang rumput di Kampung Doyo yang asri.








Tugu McArthur
Terletak di kawasan kantor Kodam XVII/ Cendrawasih. Karena merupakan komplek militer, driver kami harus meninggalkan kartu identitas di gerbang masuk dan berkendara dengan batas kecepatan yang sudah ditentukan.
Nama tugu McArthur diambil dari nama Douglas McArthur, jenderal dari Amerika Serikat yang berhasil melawan Jepang pada saat perang dunia ke-2. Untuk mengenang sejarah kemenangan tersebut, dibangunlah tugu dengan nama McArthur.
Selain wisata sejarah, kawasan tugu McArthur juga menyajikan pemandangan alam dan kota Jayapura yang sangat indah. Dari sini, saya bisa melihat betapa luas dan cantiknya danau Sentani.



Restoran Yougwa
Karena hari sudah mulai dan perut mulai meronta, kami akhirnya memutuskan untuk makan siang di Yougwa. Restoran yang terletak di pinggir danau Sentani ini tidak hanya menyajikan makanan yang enak, tapi juga pemandangan yang menyejukkan mata.
Kami memesan papeda dan ikan kuah kuning serta steak ikan gabus. Papeda merupakan makanan khas dari Papua yang terbuat dari tepung sagu. Papeda biasanya dinikmati dengan ikan kuah kuning.



Festival Danau Sentani
Alasan utama saya berkunjung ke Jayapura adalah untuk melihat Festival Danau Sentani. Festival Danau Sentani diadakan setahun sekali, sejak tahun 2007.
Festival ini diisi dengan tarian-tarian adat di atas perahu, tarian perang khas Papua, upacara adat seperti penobatan Ondoafi, dan sajian berbagai kuliner dan souvenir khas Papua.
Karnaval Festival Danau Sentani diikuti seluruh paguyuban di Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura. Dari masing-masing paguyuban baik dari luar Papua maupun di Papua sendiri yang turut serta dalam pagelaran tersebut menampilkan budaya tradisional, tari-tarian tradisional yang diiringi lagu daerah.
Festival ini adalah bukti pemeliharaan persatuan dan kesatuan di antara sesama suku, ras, agama. Nasionalime yang sangat kental terjalin di antara sesama, mengingat di Papua terdiri dari ratusan suku-suku kecil yang terkadang gampang bentrok.






Bukit Jokowi
Setelah puas menikmati uniknya Festival Danau Sentani, kami melanjutkan petualangan ke Bukit Jokowi. Di sini terdapat restoran berbentuk Honai dan juga rumah makan yang menjual makanan dan minuman. Kami memesan 2 air kelapa dan meminumnya sambil menikmati pemandangan teluk Youtefa dan samudera Pasifik.

Jayapura City
Masih belum puas untuk menikmati keindahan alam kota Jayapura, saya diajak menuju Jayapura city. Dari sini seharusnya bisa terlihat pemandangan teluk Jayapura yang eksotis, lekuk-lekuk dataran tinggi dan lembah Kota Jayapura, pusat kota yang ramai, pemukiman penduduk di lereng bukit APO, perkantoran, pusat bisnis Roku pasifik Permai, pelabuhan laut, pulau Kayu Polo dan hamparan lautan pasifik. Namun sayangnya karena langit sudah gelap, saya hanya bisa melihat pemandangan lampu-lampu yang menerangi kota Jayapura.

Hotel Le Premier
Karena hari sudah gelap dan saya merasa lelah, kami akhirnya kembali ke hotel untuk beristirahat. Saya menginap di hotel Le Premier. Hotel ini terletak di tengah kota Jayapura sehingga mudah dijangkau dan berpergian ke tempat wisata.
Restoran Rumah Laut
Setelah beristirahat, kami pergi makan malam ke restoran Rumah Laut. Di sini saya juga bertemu dengan teman lainnya yang memang tinggal di Jayapura.
Restoran Rumah Laut merupakan salah satu restoran seafood yang terkenal dan paling sering dikunjungi oleh orang yang datang ke Jayapura. Restorannya cukup luas dan rasa makanannya enak. Saat berkunjung ke Indonesia bagian timur, saya selalu menyempatkan untuk makan seafood karena ingin mencicipi hasil lautnya yang memang terkenal. Setelah selesai makan kami pun kembali ke hotel untuk beristirahat.




SKOUW (Perbatasan Jayapura dan Papua Nugini)
Setelah menempuh perjalanan udara selama sekitar 8 jam dari Jakarta menuju Jayapura, saya memutuskan untuk tidak melewatkan kesempatan berkunjungan ke SKOUW, wilayah perbatasan antara Jayapura dan Papua Nugini, pada hari terakhir saya di Jayapura.
Karena merupakan perbatasan antarnegara, SKOUW dijaga oleh TNI dan driver kami perlu menitipkan kartu identitas di gerbang masuk. Tapi setelah sudah masuk ke area SKOUW, kami bebas untuk berkeliling dan berfoto.

Kami melewati gerbang yang merupakan batas akhir wilayah Indonesia dan memasuki area pertemuan antara Indonesia dan Papua Nugini. Kami lalu melewati gerbang lagi untuk masuk ke area Papua Nugini. Kami diizinkan masuk ke area Papua Nugini tanpa menggunakan visa, namun hanya di area perbatasan saja.




Setelah memasuki area Papua Nugini, kami lalu berjalan kaki menuju tebing yang terletak tidak jauh dari area perbatasan. Dari sini, kami bisa melihat pemandangan pantai yang berada di Papua Nugini.


Saat di area pertemuan antara Indonesia dan Papua Nugini, kami bertemu dengan penduduk Papua Nugini. Mereka sangat ramah menyambut kedatangan kami dan beberapa orang Indonesia lainnya. Penduduk Papua Nugini menggunakan bahasa Inggris dalam kesehariannya.

Pantai Holtekamp
Dalam perjalanan pulang dari SKOUW menuju kota Jayapura, kami mampir di pantai Holtekamp.
Pantai Holtekamp memiliki garis pantai yang sangat panjang dan pasir pantai berwarna hitam. Pantai ini ramai dikunjungi oleh penduduk lokal yang sedang berakhir pekan.
Karena cuaca sangat panas, kami hanya mampir sebentar di pantai Holtekamp dan melanjutkan perjalanan menuju kota Jayapura. Kami lalu makan siang di soto Lamongan. Karena hari ini adalah hari minggu, kebanyakan warga pergi ke gereja dan restoran yang buka adalah yang dikelola oleh warga pendatang.


Skyline
Karena masih ada waktu sebelum jam kepulangan saya ke Jakarta, kami mampir di Skyline untuk minum air kelapa. Skyline terletak di area perbukitan, tidak jauh dari Bukit Jokowi. Dari sini kami bisa melihat pemandangan teluk Youtefa.

Setelah puas menikmati pemandangan teluk Youtefa, saya akhirnya diantar ke bandara Sentani. Sebelum pulang, saya membeli roti abon gulung khas Manokwari di bandara. Saya membeli di toko Manokwary karena dibuat di Jayapura sehingga masih fresh.

Liburan singkat saya di Jayapura pun akhirnya harus berakhir.