Dalam setiap kunjungan saya ke Singapura, saya selalu merasa takjub dengan seluruh infrastruktur, fasilitas, dan tempat wisata yang dibangun dengan sangat moderen dan dipelihara dengan baik oleh pemerintah Singapura.
Tapi siapa sangka, masih ada tempat yang sangat tradisional atau ”jadul” di Singapura. Namanya pulau Ubin.
Pemerintah Singapura dengan sengaja menjaga agar kondisi di pulau ini tetap seperti dahulu kala, dimana kondisi fasilitas dan infrastrukturnya bisa dibilang sangat berbanding terbalik dengan kondisi di pusat kota Singapura. Tujuannya adalah untuk mempertahankan kenangan dan sejarah dari Singapura. Banyak orang bilang, jika ingin melihat kondisi Singapura di masa lalu, kita bisa mengunjungi pulau Ubin.
Lain halnya dengan tujuan pemerintah, masyarakat Singapura memiliki pandangan bahwa pulau Ubin merupakan tempat untuk menghilangkan kepenatan dari rutinitas dan kebisingan. Saya setuju dengan mereka. Walaupun jaraknya hanya 10 menit naik bumboat dari Changi Point Jetty, suasana yang saya temui di pulau Ubin sangatlah berbeda dengan Singapura yang saya kunjungi selama ini.
Mulai dari bentuk bangunan rumah dan restoran yang sangat sederhana dan terbuat dari kayu, hingga mayoritas alat transportasi yang digunakan. Jumlah rumah dan penduduk pun sangat sedikit.



Menuju pulau Ubin
Akses menuju pulau ini sangat mudah dan nyaman dengan menggunakan kendaraan umum.
- Naik MRT ke stasiun Tanah Merah
- Ikuti jalan keluar stasiun dan jalan kaki menuju halte bus
- Naik bus nomor 2 hingga ke Changi Village Bus Interchange
- Jalan kaki sekitar 70 meter menuju Changi Point Jetty
- Masuk ke dalam Changi Point Jetty dan langsung menuju titik keberangkatan menuju pulau Ubin
- Pemilik bumboat (sekaligus nahkoda) akan memanggil giliran untuk naik ke bumboat (jumlah penumpang untuk 1 bumboat adalah 14 orang termasuk nahkoda). Biaya per orang adalah SGD 3 untuk sekali jalan. Bumboat beroperasi dari jam 7 pagi hingga jam 7 malam.




Transportasi di pulau Ubin
Setibanya di pulau Ubin, saya berjalan menuju pusat informasi. Di sini terdapat informasi dan peta mengenai keseluruhan objek wisata di pulau Ubin. Di sini juga terdapat toilet umum yang dapat digunakan secara gratis. Tidak seperti di pusat kota Singapura, tidak banyak terdapat toilet umum di pulau Ubin.

Ada 3 cara untuk meng-explore pulau Ubin, yakni dengan jalan kaki, mengendarai sepeda, dan menggunakan taksi (carteran). Saya memilih mengendarai sepeda dan menurut saya ini adalah cara yang paling menyenangkan. Tersedia tempat penyewaaan sepeda dengan berbagai pilihan jenis dan kondisi dengan harga SGD 8-10. Saya menyewa sepeda dengan keranjang di bagian depan supaya bisa menaruh tas dengan harga SGD 8.

Dengan mengendarai sepeda, saya dapat berhenti di tempat wisata mana saja yang saya suka sambil menikmati pemandangan sekitar yang saya lewati ditemani dengan angin segar yang bertiup sepoi-sepoi.


Objek wisata di pulau Ubin
Sebelum mulai berkeliling di pulau Ubin, saya memfoto peta pulau untuk mengetahui nama untuk setiap objek wisata yang saya temui dan mengetahui posisi saya agar bisa mudah kembali pulang.
Beberapa objek wisata yang saya kunjungi di pulau Ubin :
-
Teck Seng’s Place
Merupakan rumah kampung tradisional Cina yang dulunya dimiliki oleh Tuan Chew Teck Seng sejak tahun 1970 hingga tahun 2005. Pada tahun 2008, The National Parks Board (Npark) memperbaharui rumah ini tanpa merubah arsitektur asli.
Perabotan, peralatan dapur, furnitur, dan semua foto yang ada di rumah ini merupakan sumbangan dari penduduk Singapura baik yang tinggal di pulau Ubin ataupun di luar. Suasana yang saya nikmati saat memasuki rumah ini adalah sama persis seperti kondisi pada tahun 1970an.
Penampakan Teck Seng’s place Pintu masuk utama Teck Seng’s place Ruang tengah di Teck Seng’s place Kamar tidur yang ada di Teck Seng’s Place Masih banyak perabotan jaman dulu di Teck Seng’s place Kondisi dapur di kediaman Teck Seng’s Place -
Sensory Trail Pond
Awalnya merupakan kolam tempat budidaya ikan yang kemudian dikembangkan oleh Nparks, yang bekerja sama dengan siswa dari Ngee Ann Polytechnic, menjadi sumber perairan bagi berbagai habitat fauna seperti bangau, capung, burung pekakak, dan lainnya di pulau Ubin.
Mengunjungi Sensory Trail pond Terdapat banyak tanaman teratai di Sensory Trail pond -
Chek Jawa Wetlands
Merupakan area natural dimana terdapat 6 ekosistem utama yang menjadi satu yakni pantai berpasir, pantai berbatuan, seagrass lagoon, batu karang, hutan bakau, dan hutan pesisir.
Area yang memiliki luas sekitar 100 hektar ini terletak di bagian paling timur pulau Ubin dan berjarak sekitar 3 Km dari pelabuhan.
Saya berjalan melewati Coastal dan Mangrove broadwalk yakni seperti jembatan panjang yang berdiri di atas laut dan berlanjut ke kawasan mangrove. Dari sini saya bisa melihat berbagai biota laut, khususnya saat air laut sedang surut dan melihat berbagai jenis mangrove dan tanaman lainnya.
Visitor center di Chek Jawa Wetlands Banyak pengunjung menyusuri Coastal Broadwalk di pulau Ubin Terdapat banyak biota laut di bawah sana saat sedang surut Terdapat beberapa jenis biota laut juga di tempat kering ini Saya menemukan kepiting yang unik karena capitnya hanya 1 Memasuki Mangrove Broadwalk Terdapat banyak jenis tanaman di Mangrove Broadwalk -
Jejawi Tower
Saya naik ke menara 7 tingkat yang memiliki tinggi 20 meter ini. Di sini saya bisa melihat pemandangan laut dari ketinggian dan habitat hutan yang ada di sekitarnya. Nama “Jejawi” diambil dari nama pohon yang tumbuh di samping menara ini.
Pemandangan dari Jejawi tower
Saya menghabiskan waktu setengah hari untuk berkeliling pulau Ubin. Awalnya saya pikir saya sudah mengunjungi keseluruhan pulau, namun ternyata baru 1/3 dari pulau. Masih ada banyak tempat wisata menarik namun saya sudah merasa lelah dan akhirnya memutuskan untuk pulang ke hotel Holiday Inn Express Clarke Quay.
Holiday Inn Express Clarke Quay
Saya sudah melakukan proses cek in di pagi hari, jadi saya tinggal mengambil kunci kamar di resepsionis hotel dan langsung menuju kamar. Saya cukup terpesona dengan ukuran kamar tidur yang menurut saya cukup luas untuk ukuran kamar hotel di Singapura. Kamar tidur didesain dengan gaya sederhana tapi tetap elegan, dilengkapi dengan kasur dan bantal bulu angsa yang super empuk.

Setelah bersantai sejenak di kamar, saya memutuskan untuk berjalan-jalan ke rooftop bar. Karena masih sore, maka bar masih belum buka. Saya akhirnya berkeliling melihat pemandangan sekitar. Dari rooftop bar ini saya bisa melihat pemandangan kota Singapura termasuk Clarke Quay yang lokasinya sangat dekat dan Marina Bay Sands di kejauhan.


Di lantai yang sama dengan rooftop bar, terdapat kolam renang yang sangat keren. Kolam renang yang menggunakan kaca untuk salah satu sisi dinding ini sangat menggoda hati. Saya pun langsung kembali ke kamar untuk mengganti baju dengan baju renang dan tidak menunggu waktu lama saya sudah berada di dalam kolam renang bersama tamu hotel lainnya.



Kolam renang juga dibuat dengan konsep infitity pool dengan pemandangan kota Singapura. Setelah puas berenang, saya bersantai sejenak di kolam jacuzzi yang membuat badan menjadi lebih segar.

Selain rooftop bar, Holiday Inn Express Clarke Quay juga memiliki restoran dengan konsep continental yang dapat dinikmati oleh tamu sepanjang hari. Saat sarapan, tersedia berbagai pilihan makanan seperti pastry, salad, buah segar, sosis, dan masih banyak lagi. Area restoran sangat luas hingga bisa menampung tamu hotel yang sangat banyak.





Ini pertama kalinya saya menginap di Holiday Inn di luar Indonesia dan merasa sangat puas. Selain fasilitas hotel yang sangat menarik, Seluruh staf pun sangat ramah dalam membantu. Pastinya saya akan mempertimbangkan untuk kembali menginap di Holiday Inn Express Clarke Quay jika datang kembali ke Singapura.















