Jalan- jalan ke Thailand and Laos (Tanpa Tour) – part 2 : Wooden Mon Bridge Sangkhlaburi, Khao Laem Lake, Phra Prang Sam Yod, Lopburi Sunflower Field

Disini saya akan cerita lanjutan perjalanan liburan saya hari berikutnya, yakni di Sangkhlaburi dan Lopburi.
Kedua kota ini pasti terdengar asing bagi orang Indonesia, karena memang belum se-terkenal Bangkok. Karena tidak terlalu ramai, membuat saya lebih santai dan menikmati pemandangan disini.

Pemerintahan Thailand sangat luar biasa, di kota yang jaraknya 6-7 jam dari Bangkok, infrastruktur sangatlah bagus, jalan mulus, signal HP kuat, distribusi makanan, dan lainnya sangat bagus. Berbeda dengan Indonesia, untuk kota-kota kecil seringkali jalanan masih tanah, dan tidak ada signal HP.

Perjalanan ke kedua kota ini sangat memuaskan, no regret at all.  Hayo langsung rencanakan liburan anda, tapi saran saya jadilah turis yang baik, jangan merusak keindahan alam di Negara orang.
ada 1 hal yang membuat saya penasaran hingga saat ini, mengapa kota di Thailand banyak yang berakhiran “Buri”. Sempat bertanya kepada driver namun sepertinya dia juga tidak tahu alasannya, hehe..

​Day 3 (30 Nov 2015)
Kami bangun pagi sekali karena sudah janjian dengan driver akan dijemput jam 5.40 untuk kemudian memfoto sunrise.
Bersama driver kami menuju lokasi sunrise yang sudah diberi tahu oleh Jimbo, dan benar sekali pemandangannya sangat indah.
Matahari perlahan menampakan dirinya, menyinari Wooden Mon Bridge, jembatan kayu terpanjang di Thailand, dan sungai yang ada di bawahnya. Sungguh awal hari yang menyenangkan.
Picture

Sunrise catcher

Picture

Wooden Mon Bridge at sunrise – Photo by Jeffrey Sukardi


​Setelah puas mengambil foto dan sinar matahari sudah mulai merata, kami pun lanjut ke Mon Village.
Setiap pagi di Mon Village ada ritual Pindapatta. Turis boleh ikut melakukan pindapatta. Banyak warga lokal yang menjual paket makanan untuk pindapatta.
Harga paket makanan untuk pindapatta sekitar THB 99.
Orang yang mau melakukan pindapatta harus berbaris, kemudian nanti Monk akan berjalan melewati barisan tersebut.
Saat melakukan pindapatta, khususnya saat akan memasukan makanan ke dalam patta, kita tidak boleh mengenakan sepatu atau sandal. Kalau masih mengenakan sepatu/ sandal, Monk tidak akan mau menerima persembahan kita, dia akan berhenti dan menunjuk ke arah sepatu/ sandal.
Persembahan yang diberikan kepada 1 Monk adalah 1 sendok nasi dan 1 snack. Semua makanan yang ada ditangan kita harus habis, jadi diberikan kepada seluruh Monk yang ada.
Ritual ini sudah terkenal sehingga banyak sekali turis yang ikut melakukannya. Mereka, dan juga termasuk saya, sangat bersemangat melakukannya. Selain karena ini merupakan hal yang unik, juga akan membawa karma baik.
Picture

lynn dengan paket makanan untuk pindapatta


Selanjutnya kami berjalan menuju ke Wooden Mon Bridge, jembatan kayu terpanjang di Thailand. Sangkhlaburi berada dekat perbatasan dengan Myanmar, sehingga budaya yang ada di sini bercampur antara Thailand dan Myanmar. Nama suku yang tinggal disini adalah Mon.
Sesuai namanya,  jembatan ini terbuat dari kayu, sempat hancur di tengahnya, namun akhirnya sudah dibangun kembali.
Kebanyakan turis yang datang kesini adalah warga Thailand dari kota lain.
Dari Wooden Mon Bridge, anda dapat menikmati pemandangan yang luar biasa. Cocok bagi orang yang stres dengan kehidupan di perkotaan.
 
Karena ini merupakan jembatan kayu terpanjang di Thailand, maka saya membulatkan tekad harus sampai di sisi jembatan yang satunya. Perjalanan ini terasa sangat panjang, karena sebentar-sebentar saya berhenti untuk mengambil foto, hehe..
 
Untuk masuk ke Wooden Mon Bridge tidak dipungut biaya, namun ada kotak sumbangan jika anda ingin sukarela memberikan uang.

Picture

Wooden Mon Bridge from eagle eye – Photo by Jeffrey Sukardi

Picture

Pemandangan sejuk yang bisa dilihat dari Wooden Mon Bridge

Picture

wefie dengan gaya yang antimainstream

Picture

capture by drone, operated by Jeffrey Sukardi

Picture

Warga lokal, di pipinya seperti dipakaikan bedak.


Saat matahari mulai terasa panas, kami memutuskan kembali ke hotel untuk bersiap melanjutkan perjalanan.
 
Sampai di hotel sekitar jam 9 lewat, seharusnya waktu sarapan sudah lewat, namun Jimbo tetap memperbolehkan kami untuk  menikmati roti, biskuit, teh/ kopi untuk sarapan.

​Sekitar jam 11 siang, kami berangkat dari Oh Dee hostel menuju Lopburi. Saat memulai perjalanan saya berpesan pada driver nyetirnya santai-santai aja, dan kalau ada objek wisata yang bagus kita stop aja, karena ga buru-buru sampe Lopburi.
Karena drivernya pinter, pesan singkat membuahkan hasil luar biasa, sepanjang perjalanan masih di Sangkhlaburi, kami berhenti di beberapa lokasi Patung Buddha, dan yang paling keren adalah Jack mengantar kami ke Khao Laem Lake.
 
Sempat bingung ini tempat apa, karena tidak terletak dipinggir jalan, harus masuk ke dalam. Karena sampai disana pas jam 12 siang, saya agak malas-malasan keluar dari mobil, tapi supaya cepet beres jadi tetep turun.
Dan ternyata pemandangannya luar biasa. Menghabiskan waktu kurang lebih 45 menit untuk berfoto dan bergosong ria disini, tapi happy.
 
Harga tiket masuk untuk 4 orang + 1 mobil adalah THB 110.

Picture

Patung Buddha tidur – Sangkhlaburi

Picture

Rupang Buddha putih – Sangkhlaburi

Picture

Khao Laem Lake

Picture

Khao Laem Lake

Picture

Khao Laem Lake

Akhirnya setelah puas berpanas-panasan, kami melanjutkan perjalanan ke Lopburi. Kami baru sampai di Loburi sekitar jam 8 malam.
Selama perjalanan kami berhenti beberapa kali untuk ke makan siang, ke toilet, dan jajan.
 
Kami menginap di Benjatara Hotel di Lopburi. Bangunan hotel yang sudah tua membuat hotel terkesan angker, mungkin juga karena kami tiba di lokasi sudah malam. 10 menit jalan kaki dari hotel ada Big C (supermarket), dan beberapa restaurant. Kami memilih MK Restaurant untuk menikmati makan malem.

Day 4 (1 Des 2015)
Kali ini kami janjian bertemu di tempat sarapan agak siang yakni jam 6.30 karena memang tidak terburu-buru.
Menikmati sarapan di hotel, lalu check out dan mengunjungi objek wisata yang ada di kota Lopburi.
Kami diajak ke Temple orang Hindu, sebelumnya saya agak bingung tempat apa itu, karena cara beribadahnya berbeda dengan umat Buddha. Dan sepertinya hari itu ada perayaan karena banyak sekali orang yang datang ke temple tersebut.
Di seberang temple terdapat bangunan tua umat Hindhu Thailand, yakni Phra Prang Sam Yod. Bangunan tua ini sudah tidak ditinggali, dan menjadi objek wisata di tengah kota. Namun anda perlu hati-hati kalau datang ke sini, karena dihuni oleh banyak sekali monyet. Driver dan teman saya sudah menjadi korbannya.
Tips : jika monyet melompat ke arah Anda dan Anda tidak sempat menghindar, jangan memaksa menarik monyet untuk pergi karena monyet akan semakin mencengkram tubuh Anda dan dapat menggigit. Dan kalau anda terkena gigitan, segera ke klinik untuk dibersihkan diberikan obat.
 
Untuk masuk ke dalam kawasan ini harus membayar tiket masuk THB 50 per orang.

Picture

Temple Hindu di Lopburi

Picture

Phra Prang Sam Yod


​Setelah berfoto kurang lebih 30 menit, kami pun melanjutkan perjalanan ke Sunflower field. Di Lopburi sebenarnya banyak ladang Bunga Matahari, namun masalahnya adalah apakah sedang berbunga atau tidak. Jangka waktu tumbuh dari benih hingga menjadi bunga Matahari yang tinggi sekitar 45 hari.
Sialnya di lokasi pertama yang kami tuju, bunga Matahari baru saja dipanen, jadi pemandangannya hanya tanaman kecil berwarna hijau. Sempat stress. Bayangkan, datang dari Jakarta sampai ke Thailand, tujuannya mau lihat bunga Matahari tapi kenyataannya seperti ini.
Hal baik lagi dari Jack si driver, dia berusaha untuk mencari lokasi ladang bunga Matahari lainnya, thanks Jack, hingga akhirnya tibalah kami di ladang bunga Matahari yang berada di sisi kiri jalan.
Ladang bunga Matahari ini dirawat, berjajar rapi dan tidak ada ilalang. Kami harus membayar THB 10 per orang, sangat murah.
I was so happy..happy..happy… SO NICE. Walau kondisi panas banget, ga bosen deh foto-foto disitu dan lihat sekeliling, bagus banget. Akhirnya berenti juga sampe dah ga tahan ama Matahari beneran yang makin nyengat.
Oiya peraturan no. 1, jangan sekali-sekali berencana mau foto Bunga Matahari pas sunrise atau sunset, jangan, karena bunga mataharinya akan menghadap ke bawah. Bunga matahari ternyata mengikuti arah matahari, hehe.. Peraturan no.2, tolong hati-hati ya, jangan ngerusak bunga Matahari, jangan metik juga.
 
Lazimnya tempat turis, banyak jualan snack dan souvenir yang berhubungan dengan bunga Matahari. Jajanan yang perlu dibeli adalah biji bunga matahari alias “kuaci” yang udah dikupas, hehe.. jadi bagi orang-orang yang punya problem sama ngupas kuaci, inilah jawabannya.
 
Okay, setelah puas membakar diri di antara bunga Matahari, kami pun balik ke mobil untuk kemudian makan siang.
Kehebatan Jack yang lain, dia membawa kami ke suatu taman di tepi danau, dan menawarkan apakah kami ingin berhenti untuk berfoto, dan kami sepakat menjawab “TIDAK”. Akhirnya Jack meneruskan perjalanan, hingga tiba-tiba di sebelah kanan kami ada ladang bunga Matahari yang bunga Mataharinya tinggi sekali, dan langsung saya bilang “STOP”, dan langsung turun berfoto.
Tidak perlu bayar untuk masuk ke sini, namun tidak heran, kondisinya kurang terawat, bunga tidak berjajar rapi dan banyak ilalang di sekitarnya. Tapi nggak masalah, karena tetep bagus.
 
Dan setelah benar-benar puas, kami baru pergi makan siang, tidak jauh dari ladang Matahari terakhir, seperti kantin. Tapi makanannya enak, saya pesan nasi tumis babi dan daun basil.
 

Picture

Penampakan sunflower yang belum berbunga

Picture

Sunflower field pertama

Picture

Pardon my selfie hehe..

Picture

Sunflower field yang kedua (gratis)

Picture

Sunflower field kedua

Picture

Pork stir fry with basil vegie

Setelah makan siang, langsung perjalanan kembali ke Bangkok, kota yang sangat crowded, dan setelahnya kami harus melanjutkan perjalanan ke Laos dengan menggunakan Sleeper Train.
Kami berniat sesampainya di Bangkok, kami akan singgah ke Stasiun Hua Lamphong dulu untuk membeli tiket kereta baru kemudian kembali ke Hotel untuk istirahat. Tapi lagi-lagi inisiatif tinggi dari driver andalan, dia mengantar kami ke Stasiun Rangsit untuk membeli tiket kereta dan membantu untuk menginformasikan ke petugas loket, katanya Hua Lamphong sangat crowded dan dia khawatir kami akan kesulitan untuk kesana. Stasiun Rangsit terletak di sepanjang jalan sebelum kami tiba di Bangkok.
Tiket kereta pulang-pergi sudah ditangan, kami bisa istirahat lebih lama di Hotel, thanks again jack.
 
Sampe di sini dulu ceritanya. Tunggu postingan berikutnya tentang perjalanan kami ke Laos dengan menggunakan Sleeper train, seru loh, so don’t miss it.
 
 
Lynn
About the author

I am a Travel Blogger.

Related Posts

0 Response
    1. Lynn

      Hi Beberlian,
      Saraburi dan Lopburi itu nama kota di Thailand. Di kedua kota ini ada ladang bunga matahari atau Sunflower field. Kebetulan yang saya mampir adalah kota Lopburi.
      Selamat hunting..
      Thanks for visit.

Leave a Reply