Jalan-Jalan ke Padang dan Bukittinggi (Part 1)

Picture

Indahnya Negeri Indonesia

​Tujuan utama datang ke kota Padang adalah untuk hunting foto di kota Padang, Bukittinggi dan sekitarnya.
Saya berangkat dari Jakarta menuju Padang menggunakan pesawat Garuda Indonesia dan mendarat di Bandara Internasional Minangkabau.
Harga tiket pesawat untuk pulang pergi adalah Rp 1.672.000, harga yang cukup murah karena mengingat tanggal perjalanan saya adalah pada saat ada libur long weekend. Untuk perjalanan selama berada di kota padang dan bukittinggi, saya menyewa mobil Innova dengan rate Rp 750.000 per hari sudah termasuk sewa mobil, supir, dan bensin.
Experience selama berlibur di padang dan bukittinggi adalah masih banyak pemandangan hijau yang menyejukkan mata terutama di Bukittinggi. Disarankan bagi orang perkotaan seperti Jakarta yang penat dengan ibukota. Di sini wisata yang dapat dijumpai cukup lengkap, mulai dari sawah, pegunungan, pantai, hingga kegiatan sehari-hari warga yang menarik untuk difoto seperti proses penggorengan kacang kulit dengan menggunakan pasir dan proses memeras air tebu dengan menggunakan alat penggiling yang digerakan oleh Lembu.
Disini saya akan bercerita mengenai perjalanan saya dari awal hingga akhirnya kembali ke Jakarta.

Picture

Pemandangan dari atas pesawat yang membuat tidak sabar ingin turun dan menjelajah

Picture

Tiba di Bandar Udara International Minangkabau

Kegiatan hari pertama.
Begitu tiba di Bandara Internasional Minangkabau, kami dijemput oleh driver dan langsung diantar untuk sarapan di Soto Padang Angkasa.
Di sini terdapat 3 pilihan soto yakni soto ayam, soto daging, dan soto paru. Tentu saja yang paling khas adalah soto daging, namun berhubung saya tidak mengkonsumsi daging sapi jadi saya memesan soto ayam.
Soto ayam disajikan dalam mangkuk kecil berisi daging ayam, bihun, dan perkedel dan nasi disajikan di piring terpisah besama kerupuk khas padang.
Anda dapat memesan tambahan paru secara terpisah.
Untuk minumannya saya memesan teh khas padang yakni Teh Taluwa. Teh Taluwa. Teh Taluwa dibuat per satu porsi. Teh Taluwa ini terbuat dari kuning telur dan gula pasir yang dikocok di sebuah gelas menggunakan lidi dari daun kelapa, kemudian ditambahkan teh dengan kondisi air mendidih dan kemudian terakhir ditambah susu kental manis. Rasanya enak dan khas banget karena memang sangat tradisional.
Picture

Warung Soto Angkasa

Picture

Soto Daging

Picture

Soto Ayam

Picture

Teh Taluwa

Picture

behind the scene pembuatan teh Taluwa

Setelah selesai sarapan, kami semua bersiap menuju Tanah Datar untuk sesi hunting Pacu Jawi yang memang sudah dipersiapkan untuk kami.
Pacu Jawi adalah olahraga tradisional remaja yang tinggal di Tanah Datar. Para pemuda setempat berlomba untuk menunggangi kerbau. Mereka memanfaatkan momen dimana sawah sudah selesai dipanen dan belum ditanami lagi.
Terdapat acara Pacu Jawi resmi yang diadakan melalui rapat kepala desa.
Diluar tanggal-tanggal tersebut, kita juga dapat meminta event organizer untuk mengadakan event ini untuk sesi pemotretan.
Untuk Pacu Jawi kami kali ini juga diatur oleh EO. Harga pengadaan Pacu Jawi untuk 10 orang fotografer adalah Rp 5juta dengan durasi acara sekitar 3,5 jam. Acara biasanya dilaksanakan jam 1 siang sampai dengan jam 3.30 sore. Karena diadakan khusus untuk sesi foto, maka penonton acara ini tidak banyak sehingga lebih leluasa untuk memilih spot foto. EO juga menyediakan kursi kecil untuk duduk dan panggung tempat berdiri untuk foto dari atas.
Kontak EO : Tommy 082169966292

Ada beberapa tips saat melakukan foto Pacu Jawi.

  1. sebaiknya menggunakan baju lengan panjang karena cuaca di arena sangat panas.
  2. Jika ingin memfoto dari dekat, akan ada resiko baju terpercik lumpur, sehingga lebih baik menggunakan baju yang sudah tidak ingin dipakai lagi.
  3. Lensa yang dipakai adalah lensa Tele dengan range 70-200mm
  4. Menggunakan kamera DSLR dengan continous mode
  5. Menggunakan memory card dengan kecepatan mencatat cepat agar tidak banyak lag saat kita menggunakan continuous mode
  6. Cobalah beberapa sudut pengambilan agar dapat menemukan best spot anda sendiri
Sebelum sampai di Tanah Datar, kami singgah terlebih dahulu untuk makan siang di Pondok Baselo Baramas. Kami makan nasi padang pertama kami. Kalau di Padang, semua lauk disajikan di meja dan kita bebas untuk memilih, nanti akan dihitung lauk mana yang kita ambil atau makan.
Di sini ada lauk yang khas yakni daging sapi yang dimasak seperti rendang, namun jika rendang harus di masak selama 9 jam, daging ini dimasak sekitar 6 jam, jadi rasanya sedikit berbeda.
Harga makanan disini tidak terlalu mahal, untuk makan 10 orang, kami membayar sekitar Rp380rb.
Picture

So yummy

Picture

4 macam masakan Ayam

Picture

Pemandangan di Tanah Datar, di sekitar arena Pacu Jawi

Picture

Persiapan Pacu Jawi

Picture

Persiapan Pacu Jawi

Picture

Pacu Jawi

Picture

Penunggang Sapi berusaha menggigit ekor sapi supaya sapi mau menurutinya

Picture

Asialens Go to Padang

Grup hunting ini memang nggak murni grup pecinta fotografi, karena disamping doyan foto, kita juga doyan makan. Jadi begitu ada kesempatan, kita akan mampir untuk makan.
Seperti sore ini, setelah foto pacu Jawi yang panas-panasan, diperjalanan menuju Bukittinggi, kami singgah untuk makan Lemang. Lemang merupakan salah satu makanan khas Bukittinggi, yakni ketan yang direndam dengan santan, dan kemudian dimasukan ke dalam bambu dan dibakar. Kami menikmati Lemang ditemani dengan Kopi Kawa. Kopi Kawa merupakan Kopi yang dibuat dari seduhan daun Kopi. Menurut cerita masyarakat lokal, jaman dulu kala saat masih dibawah penjajahan, rakyat tidak bisa menikmati kopi yang dibuat dari biji kopi sehingga mereka membuat kopi dari daunnya. Rasanya kurang lebih seperti teh tarik karena memang diseduh dari daun. Patut di coba buat yang dateng ke Bukittinggi.
 
Picture

Cemilan sore di perjalanan menuju Bukittinggi

Picture

Ketan di bakar di dalam bambu

Picture

Lamang dan Kopi Kawa

Dan sesampainya di Bukittinggi, kami langsung diantar ke restoran  Family Benteng. Restoran ini terkenal dengan ayam pop nya, benar saja, masing-masing orang minimal makan 2 potong ayam pop diluar lauk lainnya yang juga enak saat disantap.
 
Begitu kenyang, kami lalu menuju hotel untuk cek in. Kami menginap di Hotel Grand Kartini. Hotel kami berlokasi persis di sebelah Masjid. Tentu saja suara azan terdengar sangat jelas dan kencang dari kamar kami. Tapi karena memang hanya untuk beristirahat 1 malam jadi kami rasa tidak apa-apa.
Kota Bukittinggi merupakan kota yang tidak terlalu luas, sehingga pusat kota dapat dilalui dengan jalan kaki. Kami pun berjalan kaki dari hotel menuju Landmark kota Bukittinggi yakni Jam Gadang. Walaupun sudah malam hari, area di sekitar Jam Gadang masih sangat ramai dikunjungi orang-orang. Rupanya memang area ini merupakan pusat kota dan juga tempat tongkrongan orang Bukittinggi. Pengunjung bervariasi, mulai dari remaja, orang tua, hingga anak-anak. Di sini juga ada yang menyediakan jasa foto langsung jadi dengan latar belakang Jam Gadang.
Kami pun mengahabiskan waktu untuk bernarsis dan bereksperimen di sini. Dan kemudian setelah itu langsung jalan kembali ke hotel untuk beristirahat.
Picture

Restrain Family Benteng

Picture

Lauk pauk yang siap disajikan

Picture

Ayam Pop 1 ya Uda….

Picture

Landmark Kota Bukittinggi – Jam Gadang

Picture

Jam Gadang dan Full Moon

Kegiatan hari kedua
 
Untuk mengantisipasi suara kencang azan sholat Subuh yang kemungkinan membuat tidak bisa tidur, kami pun sudah merencanakan untuk bangun subuh dan hunting Sunrise ke Puncak Lawang. Namun karena kelelahan di hari kemarin, sebagian peserta tidak ikut dan melanjutkan tidur.
 
Perjalanan menuju Puncak Lawang memakan waktu sekitar 1jam. Kami melewati jalanan yang terkenal dengan sebutan Kelok 44, karena ada jalanan berliku-liku sebanyak 44 belokan.
 
Kami sempet berhenti sejenak di tengah perjalanan, yakni di Kampung Sungai Landai. Kami sempat foto sebentar dan kemudian melanjutkan perjalanan. Kami kemudian akhirnya berhenti di seberang Puncak Lawang karena menurut supir, pemandangannya lebih bagus. Di sini kami bisa memfoto 2 jenis pemandangan. Yang satu pemandangan matahari terbit dengan foreground hutan, dan 1 lagi pemandangan Danau Maninjau dari atas (birdlevel). Karena berhenti di pinggir jalan jadi kami tidak perlu mebayar biaya retribusi.
Picture

Kampung Sungai Landai

Picture

Pemandangan Danau Maninjau dari ketinggian. Lokasi berhenti dipinggir jalan, di seberang Puncak Lawang.

Picture

Gerombolan burung melintas

Picture

Puncak Lawang

Picture

Capturing sunset

Picture

Canon 550D and Olympus EPL5

 Setelah puas berfoto-foto ditempat tersebut, kami kemudian diantar oleh supir ke Lawang Park. Untuk masuk ke sini, pengunjung dipungut bayaran Rp10rb per orang. Di sini terdapat villa yang dapat digunakan untuk menginap, harganya juga tidak terlalu mahal, menurut supir kami. Dari sini pemandangan yang dapat kami lihat adalah Danau Maninjau dari ketinggian, mirip dengan lokasi foto sebelumnya namun berbeda sudut saja. Area ini memang dirawat dan dibuat untuk tujuan wisata sehingga tempatnya sangat bersih dan bagus. Anda dapat memesan kopi untuk menemani anda menikmati pemandangan yang indah ini.
Picture

Pemandangan di Lawang Park

Picture

Enjoy the scenery

Picture

Villa di Lawang Park

Picture

Pemandangan dari Lawang Park ke Danau Maninjau

Setelah matahari semakin terik, kami pun meninggalkan tempat tersebut. Di perjalanan pulang, tidak jauh dari puncak lawang, kami melewati desa Lawang, yang sebenernya juga kami lewati saat datang. Kami diajak singgah dan melihat alat penggiling tebu konvensional. Tebu dimasukan ke dalam lubang, lalu ada hewan Lembu yang matanya ditutup berjalan memutar sehingga membuat batang tebu tersebut tergiling dan bisa diambil airnya. Alat tersebut saat ini sudah tidak digunakan untuk produksi massal lagi, hanya untuk sesi foto.
Disitu juga kami melihat masyarakat setempat menggoreng kacang tanah menggunakan pasir dan di atas tungku api dari kayu. Kacangnya enak, tidak berminyak. Saya sempet mencoba kacang yang setengah mateng juga.
Sebagai gantinya kami diperbolehkan untuk memotret, kami membeli jualan mereka. Kami membeli kacang dan gula aren. Gula aren ini dibuat dari tebu. Saya akui orang sumatera barat sangat pintar dan kreatif dalam menghasilkan uang.
Desa ini sejak dahulu kala merupakan penghasil tebu, karena saat jaman penjajahan Belanda terdapat pabrik gula pasir, sehingga masyarakat menanam tebu untuk jadi pemasok. Namun tiba-tiba pabrik ini tutup dan warga sudah terlanjur menanam tebu dalam jumlah banyak, akhirnya mereka berkreasi menggunakan tebu yang ada, salah satunya menjadi gula merah, this is amazing
Picture

Tempat penggorengan kacang tanah dengan menggunakan pasir

Picture

Penggorengan masih dilakukan secara manual

Kami kembali ke hotel Grand Kartini untuk mandi dan bersiap-siap check out dan melanjutkan perjalanan bersama peserta hunting lainnya.

Objek wisata yang akan kami kunjungi berikutnya adalah Ngarai Sianok, Pasar Bukittinggi, Lembah Harau, dan Kelok 9.

Seperti apa kisahnya, nantikan di artikel berikutnya 🙂 Very soon….

If there any question, feel free send email to linawaty.halianto@yahoo.com.
Don’t forget to visit and follow my Instagram at @lynnhalianto.

Many thanks.

​Lynn.

About the author

I am a Travel Blogger.

Related Posts

1 Response

Leave a Reply